Analisis Seorang Awam

Kecewa melihat keadaan negara yang morat-marit, aku berusaha menganalisis kejadian-kejadian terakhir di Indonesia dengan caraku sendiri di sini. Ini hanyalah sebuah pendapat pribadi.

Pagi-pagi kubuka laptop dan langsung on-line untuk membaca berita di detik.com. Miris campur heran membaca berita teratas di situ. Demo “mahasiswa” anarkis di Sudirman dan beberapa tempat lainnya menghiasi hampir sehalaman penuh detik.com. Mahasiswa kuberi tanda petik karena saking tidak percayanya. Pertama, benar nggak sih mereka itu mahasiswa? Kalau benar, aku sebagai mantan mahasiswa yang baru saja lulus patut mengatakan “Malu dong mahasiswa! Kalau kalian benar-benar membela rakyat, tolong jangan buat susah rakyat dengan kemacetan dan rasa takut atau ketidaknyamanan”. Kalian sebagai kaum intelektual harusnya menyumbangkan pikiran bagaimana pemecahan logis atas ketimpangan APBN sekarang ini, bukan hanya tuntutan-tuntutan.

Tapi, masalahnya adalah “benarkah mereka mahasiswa yang asli?”. Aku curiga kalau mereka itu adalah orang-orang tunggangan, yang dibayar sejumlah uang untuk makan sehari dan rokok, mengenakan jas almamater sebagai samaran, untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu (tujuan sang penunggang tentunya). Mereka bilang itu permainan politik menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden 2009. Politik apa itu? Aku nggak pernah dengar jenis politik begitu. Baca selengkapnya »

Dilema Perempuan

lambang perempuanKetika seorang perempuan single menginjak usia 25 tahunan, orang-orang disekitarnya akan bertanya begini
“Kapan kawin? Udahlah, ga perlu lama-lama, ntar keburu tua”

Pertanyaan itu semakin mengiang ketika usia bertambah 26, 27, 28,, 29 apalagi 30 dst., dunia sekitar semakin memanas. Ditambah intimidasi jam biologis seorang wanita hamil. Apa mereka nggak tahu kalau Halle Berry melahirkan normal di usia 39?

Atau, ketika kamu menemukan seorang yang tepat (dari sudut pandangmu) dan memperkenalkan dengan keluarga besar, maka muncul pertanyaan baru “kok si”anu” sih? nggak ada yang lain apa?”

Tapi pertanyaan itu tidak juga akan berakhir setelah menikah. Contoh pertanyaannya benar-benar klasik “udah isi belum?”. Pertanyaan ini terdengar asing di telinga orang Sumatera, karena artinya tidak denotatif. Maksud dari pertanyaan ini adalah “udah hamil belum?”

Dari pengalamanku, setelah menikah 3 bulan aku sudah mendengar pertanyaan serupa berpuluh kali. Padalah seperti kita tahu bersama, aku harus menunda kehamilan untuk menempuh pendidikan S2 yang mewajibkan untuk tidak hamil terlebih dulu. Awalnya aku menerangkan panjang lebar sebab musabab penundaan kehamilan dan masalah “kenapa belum isi” kepada setiap orang yang bertanya.

Pada pertanyaan keberapa puluh, akhirnya aku menyerah dan menjawab singkat “belum”.
Ternyata rentetan pertanyaan berikutnya lebih panjang lagi?
“kenapa belum isi?”
“kecapean ya?”
“udah periksa dokter belum?”

ditutup dengan…
“Cepetan dong, tar usianya keburu tua” (loh kok terdengar seperti bunyi sebelum menikah ya?)

Tapi teman-teman, apapun itu bunyinya, jangan mau ambil pusing. Sebagai orang dewasa, kita adalah perempuan mandiri dalam mengambil keputusan. Di sekitar kita ada banyak orang yang peduli, sekedar peduli, seolah peduli atau bahkan supaya terkesan peduli. Kadang mereka berucap, tidak beberapa menit langsung lupa.

So, tetap semangat dalam menjalani hidup!

Sebuah Janji

Kisah ini cuplikan dari sebuah email yang mungkin bisa menjadi perenungan bersama.

Betapa mudahnya berjanji dan betapa susahnya melaksanakan.

Istriku berkata kepadaku yang sedang membaca koran: “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang makan”. Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu. Dia tampak
ketakutan, air matanya banjir, di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India/curd rice).

Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yg baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect“-nya.

Aku mengambil mangkok dan berkata “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama Ayah”.

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku.Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata “Boleh ayah, akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta… ” agak ragu2, sejenak akan minta sesuatu bila semua nasinya habis.

“Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?” Baca selengkapnya »

Menghadapi Kematian

Minggu sore, aku menelepon seorang sahabat dalam kedukaannya melepas ayahanda ke pangkuan Bapa di sorga dan menjelang pernikahannya yang tinggal beberapa saat lagi.

Duka yang dalam terasa dalam setiap perkataannya. Aku menarik nafas untuk menyembunyikan tangisku yang mulai mengalir, mendengar semua uneg-unegnya. Untuk seorang perempuan seperti dia, yang begitu rapuh, pastilah sangat sulit untuk menghadapi kejadian seperti ini. Apalagi dia sangat dekat dengan ayahandanya itu.

Kucoba menghibur dia, meskipun ternyata kata terakhir yang dikeluarkannya “Aku tidak sanggup” membuatku patah arang. “Tuhan, kenapa dia begitu hancur?”. Janji ayahnya untuk melihat dia menikah tidak bisa ditepati. Aku yakin Tuhan punya alasan kenapa melakukan ini, dan aku tahu itulah hal yang terbaik baginya. Baca selengkapnya »

Oh Lelaki IV

Hanya sebuah pandangan sinistik dari cewek-cewek yang pernah kutemui tentang “kenapa cowok suka melihat atawa melirik cewek cantik yang bukan pasangannya?”

  1. Sayang banget ada pemandangan indah lewat
    Kan pemandangan indah itu karya seni Yang Maha Kuasa yang perlu dikagumi (alasan klasik)
  2. Takut ketinggalan sama teman-teman
    Misalnya pas ketemu rekan (apa sih pembicaraan yang paling asik kalau cowok kumpul? cewek tentunya), mereka akan membandingkan cewek yang pernah mereka lihat. “Eh, tau gak kemaren ketemu cewe yang …”
  3. Kebiasan lama
    “Gimana ya Yang, udah refleks sih, terbiasa dari dulu…”
  4. Ngelihatin pemandangan
    “Nggak ah. Siapa yang ngelihatin dia, wong aku ngelihatin pemandangan kok. Nggak percaya?” dengan nada mengancam sebagai proteksi.
  5. Kepuasan Mata
    Memuaskan imajinasi atau melengkapi gambaran tentang cewek cantik yang sempurna. Kalau nggak dilihat, ya nggak bisa tau gimana sih cewek cantik sekarang.
  6. “Apa sih ruginya tu cewek? Nggak ada kan?”
  7. Untuk menyenangkan cewek
    Kan kasian dia udah berdandan habis-habisan, tapi ga dilihatin dan ga ada yang menghargai.
  8. Nggak sengaja
  9. “Cewek itu lewat dan bergerak, otomatis ngelihat dia dong.”

Baca selengkapnya »

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!