Lovely Monday

Pagi tadi aku terlambat mengejar kereta menuju kantor. Tapi beruntung, ada kereta kedua jurusan Depok yang masih mengantri berangkat. Hujan tidak bisa disalahkan atas keterlambatanku, meskipun kalau ditanya kenapa terlambat, aku akan menyebut dia sebagai biangnya.

Senin tidak semenyebalkan yang semua orang kira. Kereta yang kutumpangi berangkat dengan sedikit penumpang menuju Sudimara. Hujan belum reda juga, kabut menutupi kaca jendela dan pintu kereta, menghalangi pandanganku ke luar. Tapi aku tetap bisa menikmati pemandangan bernuansa kabur itu. Malahan, keadaan ini membuatku bersemangat, tetes-tetes air yang menghantam kaca jendela, orang-orang berlarian menuju stasiun untuk memimalisir air hujan yang mengguyur badan, anak-anak kecil penjual koran dan payungnya, udara dingin menusuk-nusuk memberi kesejukan dan jejak-jejak kaki di lantai kereta yang basah. Tenang, dingin dan menyenangkan.

Sebagian orang telah terlelap di sudut-sudut tempat duduk, menikmati udara dingin dan melanjutkan mimpi indah tadi malam sebelum turun dari kereta. Baca selengkapnya »

Denda Tiket KRL

Rabu, 24 September 2008
STASIUN PALMERAH, 16.45

Sore itu, aku berusaha mengejar kereta, KRL Ekonomi Ciujung, yang berangkat menuju Tanah Abang, 16.45 WIB. Sebenarnya aku tidak ingin ke Tanah Abang, tapi ini adalah trik agar mendapat tempat duduk sebelum penumpang di Tanah Abang memenuhi kereta menuju Serpong. Tujuan terakhirku adalah Stasiun Serpong. Trik ini sudah biasa dilakukan oleh penumpang Palmerah.

Ketika tiba di jalur 2, aku sudah melihat KRD Rangkas Bitung masuk dari arah Tanah Abang menuju Kebayoran. Itu artinya, aku tidak bisa menyeberang untuk membeli tiket sebelum KRL Ekonomi Ciujung datang dari arah sebaliknya. Loket tiket di Palmerah memang hanya satu dan itu di pintu masuk jalur 1. Jalur 2 memang memiliki loket kecil tapi tidak diaktifkan oleh pihak perkeretaapian.

Sekilas kulihat jam tangan, aku tahu KRL Ekonomi Ciujung akan segera datang. Dan benar saja, kedatangannya diumumkan dari pengeras suara. Ah, putus harapan untuk bisa menyeberang dan beli tiket, kecuali mempertaruhkan nyawa menyeberang saat KRD Rangkas berangkat dan KRL Ciujung baru mau masuk, karena keduanya serentak datang dan pergi. Beberapa orang benar-benar mempertaruhkan nyawanya dengan mempergunakan kesempatan yang sangat kecil itu demi sebuah tiket Rp 5000 dan tempat duduk yang nyaman. Baca selengkapnya »

Kereta Ekspres yang Tak Ekspres

Perjalanan Serpong-Palmerah terasa sangat panjang karena keterlambatan KRL Sudirman pagi ini. Fuih…

Biasanya KRL Ekspres Sudirman berangkat 06.20 WIB dari Serpong dan tiba di Palmerah sekitar 06.50 WIB. Tapi ntah karena alasan apa, keberangkatan ditunda sampai 06.30. Pengumuman keterlambatan kudengar sehabis membeli tiket.

Rasanya tak akan berpengaruh banyak dengan 10 menit keterlambatan. Tapi pada kenyataannya keterlambatan 10 menit molor menjadi 17 menit. Memang setelah 10 menit, suara nang-ning-neng-nong-neng terdengar dari pengeras suara stasiun, tapi tetap saja kereta tidak bergeming. Lima belas menit, pintu ditutup dan dibuka lagi, berulangkali sampai 17 menit berlalu. Barulah setelah penyiksaan 17 menit, kereta perlahan berangkat. Sepertinya, pengaretan waktu ini untuk memberikan waktu pada penumpang KRL Depok yang seharusnya berangkat 06.30.

Bagian yang tidak mengenakkan adalah ketika KRD (kereta diesel) datang dari arah Rangkas Bitung 06.30. Setelah 2 menit berhenti, KRD melaju mendahului kereta yang ekspres ini.

Ingin sekali rasanya bertanya kepada petugas pemeriksa tiket kenapa hari ini terlambat sekali, tapi mungkin karena penumpang yang berjubel sebagai akibat akumulasi 2 kereta sekaligus (KRL Sudirman dan Depok), maka petugas ogah memeriksa tiket.

Biasalah, aku paling tidak bisa bertoleransi dengan waktu, apalagi ini bersinggungan dengan pemotongan penghasilan, ;) . Tiba di Palmerah, kulirik jamku. Jarum panjang sudah di angka 07.10, apakah aku sanggup sampai kantor 07.30?

Kucoba menangkap bayangan teman-teman yang biasa bersamaku naik taksi, tapi nihil, semuanya tidak ada. Tanpa membuang waktu, kupanggil abang ojek yang sudah melambaikan helmnya. Syukur banget tuh abang memacu motornya secepat kilat. Ya, setara kilat-lah,:p buktinya aku sampai di kantor 07.25 padahal harus muter via Kuningan karena jalur Plaza Semanggi ke Sudirman ditutup.

Yay…
Pada PJKA, tolong jangan terlambat lagi ya. Deg-deg-an nih.

High Heel dan Kereta Listrik

Mencari tantangan baru atau sekedar berusaha melawan sifatku yang tidak terlalu feminin, hari ini aku pergi ke kantor dengan high heel (5 cm). Kali ini tidak tanggung-tanggung, aku naik kereta listrik disambung dengan angkutan kota yang padat. Berhubung karena KRL AC Ekonomi Ciujung sudah berangkat, tanpa memilih lagi aku menaiki KRL ekonomi, non AC tentunya. Suasana padat tidak menggangguku sama sekali karena aku duduk di tempat yang nyaman sampai tertidur segala.

Sesekali kepala terantuk sudut jendela karena tidur di tempat yang tidak seharusnya. Aku tidak terbiasa tidur di atas kereta ekonomi karena rawan copet, tapi kali ini aku tidak mampu menahan kantuk karena sakit kepala alias puyeng yang membuat tidurku kurang enak dua hari belakangan. Tapi untung saja di Stasiun Palmerah aku bisa membuka mataku dengan lebar.

Dengan High heel, aku berlari dan melompat keluar dari kereta. Baca selengkapnya »

Kereta Vs. Jusuf Kalla

Apa hubungan Jusuf Kalla dengan kereta? Memang sekilas terasa tak ada, tapi ini benar-benar berhubungan jika ingat kejadian kemarin sore di stasiun palmerah.

Kamu tau dong, kalo stasiun palmerah itu dekat dengan Manggala Wanabakti. Ceritanya dimulai dari waktu pulang kantor. Dengan semangat berkobar-kobar, seperti biasa, aku menaiki kopaja 86 yang super padat menuju stasiun. Sedikit heran juga stasiun sepi dari penumpang yang menunggu kereta. Asik… tampaknya aku kecepatan, jadi masih longgar.

Tapi kebanggaan itu tak bertahan lama. Pas mo beli tiket, kok tutup? Nanya informasi, katanya keretanya ANJLOK. Ya elah… nasib penumpang kereta. Baca selengkapnya »

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!