Have You Ever Been Drunk?

Siang itu kami memulai pelajaran bahasa Jepang di ruangan kongkow di kampus. Kami harus memilih tempat itu, karena studying room hanya boleh dipake buat belajar, dan ga boleh dipake buat ngobrol. Padahal kan belajar bahasa itu ya harus ngobrol.

Teman Jepangku ini orangnya modern dan sudah melanglang buana ke beberapa belahan dunia, jadi ga canggung diajak bahasa Inggris bahkan menggosip. Dia sih cowo, tapi kalo nggosip bisa rame juga. Pengalamannya yang seabrek-abrek membuatku semakin mengagumi sisinya yang satu itu.

Kesan pertama mengatakan dia linguistik sejati a.k.a. belajar bahasanya gila bener, hebat. Aku mengucapkan dua patah kata bahasa Indonesia, sampe sekarang ditanya dia masih ingat. Sementara, aku diajarin bahasa Jepang berulang-ulang, pasti lupa tiga hari kemudian (waktu maksimum). Dia masih muda, bersemangat dan tidak terpikir menikah. Tidak mau memeluk suatu agama apa pun karena menurutnya agama hanya membawa petaka. Hm… pandangan yang aneh, tapi bagiku setiap orang memiliki kehendak bebas yang tidak bisa dipaksakan. Baca selengkapnya »

Sepotong Cerita Masa Lalu

21 Februari 2009
Sepuluh tahun, kejadian itu sudah berlalu. Tapi tiga hari lalu, cerita itu kembali terangkat. Cerita masa muda yang dulu sempat singgah.

Cerita ini kusimpan dan kubagi bersama seorang teman, Pipit. Rasanya memang sakit ketika dijalani, tapi berkesan untuk diingat. Jiwa muda dan semangat yang berapi-api.

SMP Kelas Dua
Pipit dan aku merasa saat itu adalah saat yang seru untuk mengenal cowok untuk dijadikan gebetan. Pipit yang menganggapku terlambat untuk melakukan itu, mengajakku mencari cowok yang bisa dijadikan gebetan. Saat itu tidak terpikirkan untuk berpacaran, yang ada kami hanya mengagumi cowo yang kami pilih dari jauh, dan menertawakan tingkah kami sendiri. Baca selengkapnya »

Menyusuri Nagoya

Berbagi pengalaman melalui foto dengan teman-teman di blog ini sungguh menyenangkan. Sudah sebulan aku tinggal di Nagoya ini dan menjalani berbagai sudutnya. Semoga saja foto-foto yang dibagi bisa menggambarkan apa yang kujalani selama ini.

Oasis 21

Oasis 21

Di bawah Oasis 21

Di bawah Oasis 21

Baca selengkapnya »

Naik Subway

Nagoya, 8 Februari 2009
Tidak terasa sudah tiga minggu menempati kota ini. Hal yang paling banyak kulakukan selama tiga minggu ini di samping tidur adalah chatting. Ternyata nggak sia-sia laptop ini dibawa sampai jauh ke sini.

Mau cerita nih soal keunikan kota ini secara khusus, atau mungkin Jepang secara umum.

Subway

subway


Tentang subway. Semua hal diatur dengan baik di sini, mulai dari hal besar sampai hal terkecil. Setiap orang yang memakai eskalator harus berdiri diam di sebelah kiri dengan mengosongkan jalur sebelah kanan karena kanan hanya untuk mendahului karena terburu-buru. Seperti jalan raya saja. Tapi sepertinya itu sudah menjadi tradisi tanpa aturan tertulis. Orang-orang cenderung berjalan lebih cepat berjalan kaki dibanding orang Indonesia. Terlihat seperti selalu terburu-buru, padahal nggak juga, itu memang default kecepatan mereka di sini.

Membeli tiket di mesin sangat mempermudah transaksi, tapi bagaimana dengan orang yang tidak mengerti kanji atau bahasa Jepang? Silahkan menebak, pasti berhasil karena petunjukknya tidak terlalu sulit. Kita bisa memakai koin 5, 10, 50, 100, 500 (kecuali satu yen) dan uang kertas berapa pun untuk membeli tiket. Untuk menghemat, belilah Yurika , membeli tiket langsung 2000 yen untuk beberapa kali perjalanan, karena tiap pembelian 2000 yen dapat bonus 200 yen, lumayan. Lebih hemat lagi, memohonlah untuk kartu berlangganan. Surat permohonan bisa diminta dari sekolah atau universitas. Kalau ga salah 6000 yen sebulan. Baca selengkapnya »

Menemukan Gereja

Hari Minggu pertama, 25 Januari 2009

Akhirnya kutemukan gereja di Nagoya. Ternyata banyak juga gereja di sini, mulai dari Ortodox, Katolik, Luteran semua ada. Tapi tentu saja aku akan memilih gereja yang terdekat dan ada pemandunya. Thanks to Yoshua dan keluarga yang sudah mengantarkan dan menunjukkan gereja ini padaku.

Gerejanya kecil dan hangat. Jemaatnya yang datang saat itu hanya 11 orang ditambah satu pendeta. Baru kali ini aku melihat gereja yang isinya dari berbagai negara dan latar belakang, tapi bersekutu dalam satu ibadah.

gereja

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!