Apr
8
Tokyo sebenarnya adalah kota incaranku ketika pertama kali melamar universitas. Tapi ketika “kata Nagoya” singgah di telingaku, aku berpaling dan berkhianat. Padahal aku sempat dijuluki Irene “Waseda” Santi
saking cintanya dengan Waseda University.
Suasana liburan musim semi membawa kami ke Tokyo, apalagi mengingat liburan dan mimpi indah kami sebagai research student segera berakhir. Jadi, jangan sia-siakan waktu, mari berkunjung ke Tokyo.
TOKYO, 1-4 April 2009
Cerita ini akan sangat panjang jika satu per satu dipaparkan, tapi akan kucoba mempersingkatnya dengan beberapa foto.
1 April 2009, 1.30 PM
Tiba di Tokyo dengan badan letih. Kami menggunakan JUHACHI KIPPU, tiket murah yang disediakan untuk liburan anak sekolah di Jepang. Murah yang dimaksud adalah murah di Jepang, jangan bayangkan murah gaya Indonesia. Tapi lumayanlah, dibandingkan harus membayar sejutaan rupiah sekali perjalanan jika menggunakan SHINKANSEN. Kelemahan tiket ini adalah kami harus transfer kereta di lima stasiun yang juga berarti perjalanan akan lebih panjang, memakan waktu sekitar 6-7 jam. Bandingkan naik Shinkansen hanya memakan waktu dua jam untuk Nagoya-Tokyo. Diajabanin deh, demi mengunjungi kota yang katanya pusat teknologi itu.

Juhachi Kippu
Baca selengkapnya »
Apr
5
Sebenarnya pengen cerita tentang perjalanan ke Tokyo, tapi ada sebuah perenungan yang muncul mendadak. Aku mengetahui berita kelahiran ini dari Facebook. Thanks to Facebook.
Sepulang dari opening ceremony pagi tadi, yang ternyata bahasa jepang sepanjang upacara, aku dan teman-teman yang masih lelah karena baru pulang dari Tokyo semalam, berencana tidur sesampai apartemen. Tapi karena kebisaan buruk aku pun membuka Facebook sebelum tidur. Berita ini terlihat di update terakhir: “We are proudly present you baby boy Tarigan Jr. weigth 3,5 kgs and 50 cm, born in RS Sri Ratu Mdn on 5.4.09,at 2.25 AM. Yippie… Thanx for the prayer,uncle and aunty!
”
Aku terharu, senang dan bersyukur atas lahirnya bayi Withri dan Daniel Tarigan dengan selamat. Wah, aku nggak tahan pengen melihat seperti apa bayinya, mirip bapak atau ibunya, pipinya tembem apa nggak, warna kulitnya merah, putih, itam atau kuning, matanya besar, cipit atau masih belum bisa diperbandingkan, ibunya udah gimana dst. karena kedua orangtua baru ini adalah teman dekatku dan ibunya adalah eks roommate ku.
Tapi ada perasaan lain yang menyembul: aku merasa “ingin memiliki” juga. Kata temanku “iri mode: on”. Baca selengkapnya »
Mar
29
Nagoya,
Minggu, 29 Maret 2009
Karena bawaan sakit bulanan yang sulit diatasi, aku merencanakan segera pulang dari gereja, mengejar bus dan langsung tidur di rumah. Tapi tah kenapa, pendeta kali ini lebih lama khotbahnya dibanding pendeta biasa. Khotbahnya menarik, jadi aku tidak sadar jarum jam sudah menunjukkan waktu keberangkatan bis. Ditambah “jam-jam keakraban” di belakang gereja, akhirnya aku sukses ketinggalan bis.
Seorang teman Filipina menawarkan mengantarku ke Aratama Bashi dengan mobilnya. Aseeek, hemat energi hemat biaya. Belum beberapa lama di atas mobil, Jenny, orang Filipina juga, mengajakku shopping-shopping ria di Nagoya Eki tapi dengan menggunakan subway (artinya: tambahan biaya, hehehe). Awalnya kutolak karena takut merepotkan, tapi karena dia bilang “jangan kuatir”, aku mau. Hitung-hitung melupakan tekanan periodik ini.
Tiba di Nagoya Eki, aku mulai kembali merasakan perasaan yang dulu sering kurasakan di Indonesia, yaitu “aku berbeda”. Aku tidak mengerti hal-hal berbau cewe, make-up, nail polished atau apalah itu. Mereka menertawaiku ketika aku memegang kuas kuteks dan mengoleskannya ke jari. You even don’t know how to polish your nail. Aku jadi ikutan menertawakan diriku. Iya-ya, kenapa aku tomboy banget? Hal simpel pun aku kurang paham.
Kami menunggu barang pesanan kami selama hampir satu jam di Amway Nagoya. Sementara menunggu, kedua temanku ini mulai memoles pipi dengan bermacam bedak dan pemerah pipi yang disediakan Amway untuk customer di meja rias. And you guess what, I am not interested on that. Aku bertanya-tanya dalam hati “apakah aku cewek normal?” dan geli sendiri memikirkan pertanyaan itu. Senangnya jadi cowok tidak perlu melakukan hal-hal sedemikian untuk tampil sempurna. Baca selengkapnya »
Mar
13
Setelah beberapa lama tinggal di Jepang, aku mulai bisa mengakui bangga menjadi orang Indonesia, terlebih ketika:
1. Kami bertamasya ke kota wisata Nara

Kuil Terbesar di Nara
Nara ditata begitu apik, padahal kota ini kecil dan bisa dikelilingi hanya dengan berjalan kaki seharian. Isi kota ini hanya kuil-kuil, tapi karena penataan yang baik dan banyaknya festival sepanjang tahun, jadilah kota hampir tanpa polusi ini dikunjungi banyak wisatawan, luar maupun dalam.

Berkelakar dengan Rusa
Kelebihan Nara yang lain adalah rusa. Dimana-mana ada rusa yang anehnya, tanduknya dipotong semua. Rasanya, rusa di bogor lebih cantik karena tanduknya ga dipotong.
Rusa-rusanya tampak kelaparan karena setiap kali dia melihat barang yang seperti makanan langsung didekati. Aku bahkan harus berebut buku wisata dengannya karena dia kira buku itu makanan, makanya langsung digigit.
Ketika kami menanyakan seorang staf di bagian informasi pariwisata, beliau menjelaskan dengan detil setiap sudut Nara, apa yang menarik dan waktu tempuh. Di akhir penjelasannya dia menanyakan negara asal kami dan kami menjawab Indonesia. Dengan spontan dia mengatakan dengan senyum malu-malu “Your country is more beautiful”. Kami pun tertawa serempak. Tau aja nih bapak. Bangga booo… Baca selengkapnya »
Mar
5
Pagi pagi tadi kami melangkahkan kaki menuju pusat kota Nagoya untuk melihat bangunan-bangunan bersejarah dan artistik. Sayang kami hanya bisa mengunjungi satu yaitu Nagoya Archieve Building.
Satu kejutan menyenangkan pagi itu mengundang banyak orang untuk memfoto dan mengabadikan mekarnya bunga sakura. Wah, ini pengalaman pertama yang lumayan mendebarkan bagiku. Selama ini, aku hanya menyaksikannya dari internet, televisi, majalah dan media lain. Tapi kali ini, aku menyaksikannya sendiri, bunga merah jambu yang mulai mekar terlalu dini di awal Maret.
Jumlahnya belum begitu banyak, tapi sungguh bunga itu indah. Bunga yang menjadi ciri khas Jepang. Lucky me…

Nagoya Archieve

Lampu Langit-langit

Nagoya Archieve Full

Burung dan Sakura
Baca selengkapnya »