May
26
Wah… Hisashiburi (lama tak bertemu)…
Kesibukan kuliah mulai merajalela sekarang, dan kadang kepala ini tidak bisa diajak menulis yang lain-lain selain setumpuk PR.
Ada kejadian menarik hari ini, jadi pengen cerita sedikit. Tadi sepulang kuliah siang, aku dan temanku memandang tempat sampah apartemen kami yang biasanya sudah kosong kalau siang. Kali ini ada beberapa sampah di sana, dengan bungkus merah. Plastik merah berarti sampah dapur dan sampah basah yang memang dijadwalkan untuk dibuang setiap Hari Selasa. Tapi kenapa tidak diangkat? Jelas saja, karena isinya bukan sampah basah, tapi timbangan, futon (selimut dan kasur Jepang), sendok, panci-panci dkk. Hm… sebenarnya sampah itu dari kemaren di situ, tapi keberanian untuk memulung baru datang sekarang. Kami langsung aja memulungnya, memilah dan memilih,
. Malu juga, jadi celingak celinguk dulu sebelum mengambil. Syukurlah tidak ada orang yang lewat depan apartemen. Siiiip…
Di Jepang itu, membuang sampah elektronik dan barang-barang besi lainnya yang melebihi ukuran tertentu dikenakan biaya lumayan mahal, jadi kami hanya tertarik dengan barang-barang kecil ato non besi karena membayangkan buangnya tar gimana. Kebiasaan konsumtif orang-orang Jepang juga menjadikan tempat sampah diisi dengan barang-barang bagus tapi ga up to date lagi. Memulung sampah bukanlah kriminal jadi oke-oke saja. Ga perlu beli panci baru dan timbangan badan. 
Semoga saja, tak ada anak seapartemen yang bisa bahasa Indonesia yang membaca blog ini,
.
May
1
Keadaan Nagoya saat berita Swine Flu menyebar.
Pihak Universitas mengeluarkan “Urgent Notice regarding New Type of Influenza” untuk mewanti-wanti mahasiswa berhati-hati dan mengurangi perjalanan atau membatalkan semua perjalanan ke luar negeri. Jika terlanjur, sebaiknya tetap di rumah dan tidak ke kampus selama 10 hari. Hm…
Masker yang diklaim bisa memblokir penyebaran flu habis terjual di apotik-apotik.
Disarankan untuk mengumpulkan bahan makanan untuk seminggu ini (golden week), kalau-kalau penyebarannya sampai di Jepang, kampus akan ditutup sementara dan setiap mahasiswa diharap tetap tinggal di rumah.
Sesampai di depan laptop aku penasaran langsung browsing, sampai dimana penyebaran swine flu ini, bagaimana caranya karena aku jadi ikutan kwatir. Dulu sepertinya orang-orang santai aja di Indonesia pas Avian Flu menyebar, tapi kok waktu Swine Flu reaksinya lebih parah. Ternyata yang berbeda adalah “Cara menanggapi antara orang di Jepang dan di Indonesia”. Kata salah seorang temanku, di sini orang-orang rentan terkena flu, jadi lebih berhati-hati. Wah, aku juga akan berhati-hati. Sepertinya hari ini perlu berbelanja untuk seminggu nih.
Ide bagus.
Apr
9
Aku baru belajar, kalau kata Sensei dalam bahasa Jepang itu terdiri dari dua kanji. Kanji pertama berarti PRIORITY dan kedua berarti HIDUP. Jadi wajar Sensei di Jepang menjadi orang yang sangat diprioritaskan dalam dunia kehidupan pengajaran dan pendidikan. Filosofi tulisannya aja udah gitu. (CMIIW)

Opening Ceremony Stage
Opening Ceremony 5 April 2009 Nagoya University diadakan di Toyoda Auditorium yang letaknya persis di kampus Nagoya. Baca selengkapnya »
Apr
8
3 April 2009
Kembali ke Akihabara, membeli harddisk, kabel LAN dan batere kamera.
Berhubung hari Jumat, teman-teman cowok mau jumatan. Aku dan Mbak Icha disuruh nunggu sambil jalan-jalan. Yang mengherankan, di perjalanan menuju tempat itu, aku sempat disapa oleh seorang polisi berpakaian preman (Feri bilang sih intel sana) dalam bahasa Jepang. Kata Feri, mereka sering menyapa orang asing yang terlihat baru dan kebingungan. Ha? Padahal aku tidak bingung
. Ketika aku memanggil Feri, dia langsung bilang “O, daijoubu” yang artinya “O, gpp…”.
Siang itu, kami kesulitan mencari toilet sementara menunggu teman-teman selesai jumatan. Katanya sih di stasiun, tapi harus masuk dulu. Masa berkorban 230 yen untuk toilet, hehehe… Cara kami memperoleh toilet adalah, makan di resto Thai di samping tempat jumatan mereka dan meminjam toilet. Smart! Tapi tebak berapa sekali makan di sana? Tomyam 900 yen (sekitar 100ribu rupiah). Oops, jangan salah sangka dulu, makanannya sangat lumayan untuk harga itu.

Seset Tomyam Lezat
Baca selengkapnya »
Apr
8
2 April 2009
TSUKIJI FISH MARKET
Feri punya rencana yang lumayan asik pagi itu, mengunjungi pasar ikan yang sering tertera di buku-buku wisata Tokyo. Feri sendiri belum pernah ke sana, jadi ini pengalaman baru buat kami semua. Pasar ini mengadakan pelelangan ikan pagi-pagi buta, tapi sayang, kereta pertama tidak sanggup mengejar pelelangan itu, jadi kami hanya menyaksikan sisa-sisa dan pasarnya.

Pasar Ikan
Kendaraan yang dipergunakan di dalam pasar ini unik. Lihat saja. Kendaraan ini lincah dan kadang mengagetkan kalau muncul mendadak dari depan atau belakang kita. Baca selengkapnya »