Tips Mengeskplor Bali

Tanah Lot

Tanah Lot

Siapa bilang negara kita tidak cantik. Indonesia itu indah, lebih dari negara lain yang kukunjungi atau kulihat di media massa sebelumnya.

Berbekalkan peta cetakan Periplus, kami mengarungi Bali pada kunjungan kedua ini. Hasilnya lumayan asik. Hari pertama kami mencoba menyewa motor roda dua dan berhasil kesasar ke pantai yang asik punya. Hari kedua, tetap nekat menyewa motor dan mendaki menuju GWK (Garuda Wisnu Kencana). Kasian motor matiknya, karena harus menampung dua bodi yang tidak terlalu ramping. Hari ketiga, nyerah menyewa motor roda dua, kami pun mencoba menyewa mobil. Kali ini jiwa petualang kami dapat dipuaskan sampai Ubud dan Tabanan.

Perjalanan ini bisa ditiru bahkan oleh pemula sekalipun. Kalian bisa coba dengan tips-tips sederhana berikut.

1. Waktu Kunjungan
Sebaiknya dipilih waktu yang tidak bertepatan dengan hari libur/hari besar di Indonesia. Memang, kita juga akan kehilangan momen untuk melihat banyak pertunjukkan, tapi jika tujuan kita mengeksplor Bali, ada baiknya pilih saja hari yang sepi. Kemarin kami pergi kesana sebelum hari libur menjelang lebaran. Keuntungan yang didapatkan, belanja juga bisa murah, hotel tarifnya ga terlalu mahal, begitu juga dengan tiket pesawat.

2. Tiket Pesawat
Logo AirAsia Sepertinya AirAsia merupakan penyedia tiket termurah sekarang ini, tapi mungkin juga diperoleh dari promo-promo perusahaan penerbangan lain.

3. Peta
Bawa peta Periplus, yang buku sepertinya lebih baik, tapi peta Periplus yang selembar besar itu juga boleh. Harganya berkisar Rp 100.000. Peta lain kurang bisa diandalkan. Kami membeli banyak tipe peta dan kecewa karena cukup menyesatkan atau mungkin karena belum di-update.

Oh ya, hampir lupa. Jangan lupa membawa kompas. Tanpa kompas, membaca peta akan terasa lebih sulit.

4. Hotel
Baca selengkapnya »

Feliz Cumpleaños

Sebuah renungan kecil menjelang ulang tahunku…
Beberapa dari beribu pertanyaan “kenapa?” yang pernah terpikirkan dalam hidupku

Suatu hari di tahun 1989
Karena penugasan bapak yang baru, kami harus pindah ke Kabanjahe. Hidup baru dan sekolah baru. Di sekolah baru, aku diejek dan dicap sebagai “anak kampung” yang terbelakang masuk kota. Tidak bisa kusalahkan juga, tapi aku bertanya “kenapa aku yang anak kampung harus direndahkan?”

Suatu saat di tahun 1990
Pengajaran yang seringkali berakhir dengan pukulan menambah tekanan. Aku termasuk siswa penerima pukulan terbanyak karena tidak bisa menghapal perkalian dan banyak kesalahan lainnya. Aku pun bertanya “kenapa aku bodoh?”

1996 Class

1996 Class

Suatu saat di tahun 1996
Aku berjuang menghadapi kenyataan dan Tuhan memberiku kesempatan bertemu seorang guru matematika yang memperkenalkan metode baru. Metode yang sangat kusukai karena ketidaksukaanku pada metode sebelumnya. Coba saja tidak ada metode lama itu, mungkin saja aku menganggap remeh metode baru ini. Baca selengkapnya »

Potongan Hari-Hari di Nagoya

Lama tak mengisi blog ini lagi. Ditinggalkan dan diabaikan. Bukan tanpa alasan juga sih. Belakangan ini aku memulai kesibukan-kesibukan mahasiswa pada umumnya di Jepang. Mulai dari ujian-ujian sampai ke kegiatan relaksasi. Kali ini aku hanya mencuplik foto-foto yang sekiranya menggambarkan beberapa kegiatan belakangan ini.

Angklung Time

Angklung Time

Kesibukan kuliah diselingi dengan musik adalah harmonisasi yang tak terbantahkan. Yuk, ikutan angklung di halaman kampus Nagoya. Memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Jepang. Angklung itu punya Indonesia loh, jangan tertipu dengan gosip. ;)

Ikut Nyontreng

Ikut Nyontreng

Ingat kewajiban sebagai warga negara yang baik, ikut milih. Pemilu di Nagoya lumayan unik, kita nyontreng dan kirim via pos ke kedubes Tokyo. Inilah pemilu pertamaku di Nagoya, memilih presiden dan wakil presiden. Senang bisa menyumbang satu suara buat calon pilihanku.

Careless

Careless

Ini dia kertas ujian yang dibagikan sensei beberapa hari yang lalu. Di satu halaman terdapat tulisan merah yang kentara, Careless. Anak yang selalu membuat kesalahan-kesalahan memalukan, :p . Tolong dong, masa memundurkan dua koma aja susahnya minta ampun.

In words please

In words please

Di halaman lain, peringatan berikutnya muncul. Mungkin karena sensei merasa cukuplah sedikit kata dan rumus saja, dia pun mencoret peringatannya. Aku suka banget menerangkan sesuatu dengan grafik tanpa kata-kata, sensei pun jadi gemas lihatnya.

Kelas Peacebuilding

Hari Rabu dan Hari Kamis merupakan hari terberat sepanjang minggu buatku. Rabu kuliah dimulai jam 8.45 yang artinya aku harus berangkat dari rumah jam 7.45, kadang kalo terlambat, berangkat jam 8.00 tapi harus berlari mengejar jadwal subway :p. Kebiasaanku tidur pagi dan bangun siang membuat keadaan semakin berat. Tapi sebenarnya bagian terberatnya adalah karena tugas setiap minggunya mencapai klimaks di dua hari itu. Tugas yang kumaksud bukan hanya tugas berupa PR (dalam bentuk essay atau problems), tapi juga reading assignments yang menumpuk.

Tadi itu bagian terparah sepanjang aku kuliah di sini, nggak tau besok-besok gimana. Anak ekonomi disuruh memahami percaturan politik dunia melalui satu istilah “peacebuilding”. Saking bingungnya mencari sumber tulisan yang lebih mudah dipahami, akhirnya aku mencoba youtube. Youtube memang luarbiasa, aku menemukan wawancara panjang mantan Sekjen PBB, Sir Brian Urquhart seputar peacemaking (teman seperjuanganya si peacebuilding tadi). Tapi, tetap saja, menulis sesuatu yang tidak kita pahami itu sangat menyiksa.

Essay yang harus ditulis berkisar 3 sampai 5 halaman dan single space. Sebelum menulis, kami diwajibkan membaca reading materials yang kebetulan tebal ;). Kebayang betapa bingungnya aku, kamus Oxford harus kupakai berulang-ulang dan tetap sulit. Aku mulai berpikir “Sensei ini tega bener ya, bikin tugas ginian, gimana sih tampangnya?”. Mulai kesal dan tak sabaran. Baca selengkapnya »

MeiDaiSai (Tenda Kuning Kita)

Nagoya University Festival (alias MeiDaiSai). Mei untuk membaca kanji awal Nagoya, Dai untuk Daigaku atau University, dan Sai untuk Festival. Festival ini dilakukan sekali setahun menyambut hari jadi Nagoya University. Tahun ini diadakan tanggal 6-7 Juni 2009. Festival kali ini merupakan festival ke-50, tahun ini dirayakan meriah, tapi tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, setiap stan dilarang berjualan makanan karena kejadian tahun lalu menjatuhkan satu orang korban keracunan makanan. Festival tanpa makanan sungguh kurang meriah, yang ada jadinya pasar murah.

Gerbang Masuk

Gerbang Masuk

Tapi bagaimanapun juga inilah festival pertamaku di kampus. Aku mengambil sedikit foto tadi sembari menjalankan tugas menjaga stan Indonesia yang berjualan souvenir-souvenir Indonesia, menyewakan baju daerah buat dipakai dan berfoto, dan penampilan angklung kecil-kecilan. Aku pun sempat membeli payung di tempat berjualan umum karena seminggu lalu aku kehilangan payungku di gedungku sendiri. Makanya, jangan percaya semua tempat itu aman di Jepang, apalagi tempat itu banyak orang internasionalnya. ;)

Aku hanya sempat mengambil beberapa foto karena ditambah banyak kesibukan. Semoga fotonya bisa menggambarkan sedikit keadaan di sana tadi. Baca selengkapnya »

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!