My Dad

Bapakku jarang berkata-kata, tapi kaya makna.

Kami lima bersaudara dibesarkan dalam kesederhanaan. Keluarga besar yang mungkin sulit dikelola sekarang ini karena biaya hidup yang membengkak. Aku anak bungsu yang diklaim paling manja di antara lima bersaudara. Masa bodoh dengan klaim itu karena pada kenyataannya benar demikian.

Kami berlima lebih dekat dengan Mamak daripada Bapak, terbukti kalau menelepon ke rumah dari tempat yang jauh, Bapak yang kebetulan mengangkat telepon akan segera mentransfer telepon ke Mamak. Dari lubuk hati yang terdalam pengen sih bertelepon dengan Bapak, tapi tah kenapa, keadaan selalu begitu.

Kenangan yang kupunya dengan Bapak
Dulu, dia sering membawaku serta ke kedai kopi untuk meminum secangkir teh manis. Kesukaanku di kedai kopi adalah memakan telur ayam setengah matang yang ditambah garam dan lada dan juga roti kosong (istilah Medan untuk roti bantal). Aku termasuk penggemar kedai kopi karena kebiasaan bapak, meskipun isi kedai itu bapak-bapak semua. Kalau dulu ada iklan roti kosong, sudah kubuat slogan “dirobek, dicelup terus dijilat”. Sampai sekarang pun, kalau roti kosong disuguhkan aku pasti suka, terutama dengan teh manis panas.

Di atas kereta (baca:motor), aku sering duduk di depan dan diterpa angin kencang. Setelah itu, aku pasti ketiduran dan menjatuhkan sendal yang kukenakan. Ketika hampir tiba di rumah, bapak pun tersadar dan harus kembali ke jalan tadi untuk memungut sendal yang biasanya jatuh sebelah itu. Itu 20 tahun silam.

Bapak adalah seorang pendeta yang sering mengutip cerita hidup kami sebagai cerita di atas mimbar. Kadang mukaku merah padam mendengarnya karena keteledoranku yang sangat memalukan terkuak di depan umum. Misalnya, aku membuat gosong ikan mas arsik karena ketiduran, atau lebih parahnya tak sengaja lupa mematikan kompor ketika memasak air. Tapi itu belum semua. Ketika aku pergi meninggalkan Kabanjahe dia mulai berkhotbah tentang kepergian kami sampe akhirnya anak terakhir yaitu aku pun pergi meninggalkan rumah demi sekolah. Seringkali dia tidak sengaja menulis di buku khotbahnya “Lengetna e” (artinya: sepi sekali ya), sembari dia mempersiapkan khotbah minggunya.

Natal keluarga sekarang sangat sulit kami adakan, mengingat kami berlima sudah berkeluarga dan tinggal berjauhan. Pernah sekali kami berkumpul, dan ingin membuat prosesi natal (barisan menuju ruangan tempat natal diadakan). Kami berdiskusi panjang lebar tentang “bagaimana urutan barisannya”. Dan tercetus sebuah keputusan “barisan berdasarkan tinggi”. Tentu saja, bapak yang notabene paling pendek harus berada di depan dan membawa lilin. Bapak pun kemudian berkomentar, setelah terdiam cukup lama “kan masih ada si mopi (anjing kami)”. :D Tapi itu hanya candaan kami saja untuk membuat barisan.

Diam-diam, Bapak menitipkan banyak idealisme dalam hidupku. Aku mencontohnya dalam banyak hal. Bapak orangnya sederhana, tepat waktu dalam memenuhi janji, pekerja keras dan lumayan perfeksionis. Seringkali aku melihat dan mempelajari cara bapak mengelola masalah di dalam jemaat. Pertama kali pindah ke Kabanjahe, seorang jemaat mengkritik dasi bapak yang biasa saja, Bapak kemudian cerita di rumah dengan wajah lucu, tanpa perasaan marah. Dia pun menolak tawaran untuk dibelikan kendaraan atau perabot rumah tangga lain dari jemaat, sepanjang itu masih bisa tidak.

Bapak adalah pendeta yang membaptisku waktu anak-anak dan remaja, dan untungnya tidak pada waktu pernikahan. :) Dia lumayan legendaris dengan celoteh lucunya di atas mimbar, disukai tapi tidak jarang juga dianggap terlalu keras. Di mataku, dia tidak melakukan cela karena aku mengerti kenapa dia keras pada saat -saat tertentu.

Kalau diingat-ingat semua, takkan cukup sebuah novel untuk menuliskan memori kami.

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!

Leave a Reply

Gravatar: Kamu bisa menampilkan foto kamu di sebelah komentar kamu dengan membaca panduan ini.

PERHATIAN! Setiap komentar ngasal yang tidak mencantumkan alamat email asli/aktif akan langsung dihapus tanpa ditampilkan terlebih dahulu.

:) :( :d :"> :(( *:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »