Adaptasi Lagi
Dengan menggigil kuteruskan mengetik report yang harus dikumpulkan besok meskipun waktu sudah menunjukkan 2.30 pagi. Udara memang kurang bersahabat. Termometer di penggaris yang baru saja kubeli menunjukkan batang merah pendek hampir menyentuh nol derajat. Terbayang wajah ketua kelompokku yang minta belas kasihan kami anggota-anggotanya. Kami memang bukan anggota kelompok yang baik, karena ketua kelompokku ini harus menderita atas kemalasan kami yang berkepanjangan. Mungkin dia sudah mengutuk dalam hati, atau sekedar menyesalkan hari kami dipertemukan sebagai kelompok. Satu semester cukuplah baginya, aku ingin menutup kebersamaan ini dengan manis.
Dulu di Jakarta, waktu aku sedang berjuang meraih gelar sarjanaku (aka Diploma Empat), aku seringkali terlibat dalam kelompok yang sama dengan orang-orang dari suku berbeda-beda. Suku berbeda menciptakan kebiasaan berbeda. Kebiasaan berbeda bukan berarti konflik, tapi pembelajaran. Aku lumayan banyak belajar dari keadaan itu meskipun memang diawali konflik-konflik. Kelembutan Jawa menyatu dengan kekerasan Batak dan kefleksibelan seorang anak Jakarta. Tak kupingkiri adaptasinya susah dan kadangakala menjadi hal yang sulit dan mengejutkan.
Sekarang ternyata aku terpaksa naik kelas. Teman-temanku tidak lagi Jawa, Batak atau Betawi. Aku duduk semeja dengan seorang Jepang, Uzbekistan, dan Ajarbaizan dengan kebiasaan jauh berbeda. Satu pelajaran penting, “ketika kita merasa orang lain aneh, keanehan itu juga yang dirasakan orang lain tersebut terhadap kita”. Itulah perbedaan.
Jujur, aku merasa aneh sekaligus kagum dengan kebiasaan-kebiasaan mereka. Ketuaku Jepang, pekerja keras tentu saja, rapi dan telaten, paling telaten di antara kami meskipun dia seorang lelaki. Dia memiliki semua citra seorang Jepang yang biasanya kita kenakan pada seorang Jepang. Hampir semua temanku, hm… sepertinya semua teman Jepangku pernah tinggal di negara berbahasa Inggris, jadi bahasa Inggris mereka keren, seringkali lebih keren dari kita Indonesia. Ketuaku ini pernah tinggal di Inggris untuk pertukaran pelajar. Cukuplah membuatku kagum.
Teman dari Uzbek dan Ajarbaizan lumayan mirip kebiasaanya, nyentrik dan memiliki ide sendiri tentang kreativitas. Awalnya aneh, sekarang aku mulai mencoba untuk menerima itu bukan sebagai keanehan, karena dia pasti mengira aku “tidak kreatif” dan mungkin juga “anak aneh” atau “kaku”. Yang dari Uzbek religius, sementara dari Ajarbaizan hedon. Aku tidak ingin menjudge mana yang lebih baik atau lebih buruk. Itu hal yang sudah ada disana, tidak akan kucampuri, kecuali dia meminta pendapatku atau melibatkanku.
Apakah aku sudah ahli dalam adaptasi? Tentu tidak, ternyata ini pembelajaran tanpa pangkal dan ujung. Aku baru sadar, dengan teman Jawaku aku kembali masih perlu waktu untuk adaptasi lagi. Sudah lupa teknik-tekniknya.
Mau nerusin ngetik report lagi ya



Add to del.icio.us