Kelas Peacebuilding
Hari Rabu dan Hari Kamis merupakan hari terberat sepanjang minggu buatku. Rabu kuliah dimulai jam 8.45 yang artinya aku harus berangkat dari rumah jam 7.45, kadang kalo terlambat, berangkat jam 8.00 tapi harus berlari mengejar jadwal subway
. Kebiasaanku tidur pagi dan bangun siang membuat keadaan semakin berat. Tapi sebenarnya bagian terberatnya adalah karena tugas setiap minggunya mencapai klimaks di dua hari itu. Tugas yang kumaksud bukan hanya tugas berupa PR (dalam bentuk essay atau problems), tapi juga reading assignments yang menumpuk.
Tadi itu bagian terparah sepanjang aku kuliah di sini, nggak tau besok-besok gimana. Anak ekonomi disuruh memahami percaturan politik dunia melalui satu istilah “peacebuilding”. Saking bingungnya mencari sumber tulisan yang lebih mudah dipahami, akhirnya aku mencoba youtube. Youtube memang luarbiasa, aku menemukan wawancara panjang mantan Sekjen PBB, Sir Brian Urquhart seputar peacemaking (teman seperjuanganya si peacebuilding tadi). Tapi, tetap saja, menulis sesuatu yang tidak kita pahami itu sangat menyiksa.
Essay yang harus ditulis berkisar 3 sampai 5 halaman dan single space. Sebelum menulis, kami diwajibkan membaca reading materials yang kebetulan tebal
. Kebayang betapa bingungnya aku, kamus Oxford harus kupakai berulang-ulang dan tetap sulit. Aku mulai berpikir “Sensei ini tega bener ya, bikin tugas ginian, gimana sih tampangnya?”. Mulai kesal dan tak sabaran.
Dua kelas pagi harus kulalui sebelum kelas “peacebuilding” ini. Punggungku mulai terasa sakit gara-gara kelamaan duduk dengan posisi yang sama semalaman di depan komputer. Semua kata-kata dosen lewat dah, terganggu oleh nyeri punggung. Untung dua kelas selesai tanpa masalah. Dengan rasa penasaran, aku memasuki ruang seminar “peacebuilding”. Kelas ini diikuti oleh banyak mahasiswa dari berbagai jurusan (Hukum, Politik, Pemerintahan dan Ekonomi), meskipun ga nyambung, tapi itulah tuntuan sekolah di jurusan internasional, harus paham keadaan dunia secara global. Okelah, mana tu Professor? Tunjukkan batang hidungmu
Dia seorang perempuan. Tadinya dalam bayanganku dia bapak-bapak, perut gendut dan suara bongor. Sosoknya mungil, ringkih, rambutnya kriting (keriting akar: sangat jarang terlihat di Jepang), suaranya berbeda dari yang biasa kudengar, dan Bahasa Inggrisnya sophisticated (level tinggi). “Jadi, sensei semungil ini telah membuatku berjibaku sepanjang tiga hari ini?”. Tak kuduga. Tak sanggup juga aku kesal berlama-lama. Ilmunya mengalir deras ketika dia menjelaskan tentang detail program-program United Nation (PBB) tentang perdamaian dunia. Yang ada aku terkagum-kagum, meskipun tak sepenuhnya memahami setiap perkataannya.
Ganbatte Irene!!!



Add to del.icio.us