Mulung
Wah… Hisashiburi (lama tak bertemu)…
Kesibukan kuliah mulai merajalela sekarang, dan kadang kepala ini tidak bisa diajak menulis yang lain-lain selain setumpuk PR.
Ada kejadian menarik hari ini, jadi pengen cerita sedikit. Tadi sepulang kuliah siang, aku dan temanku memandang tempat sampah apartemen kami yang biasanya sudah kosong kalau siang. Kali ini ada beberapa sampah di sana, dengan bungkus merah. Plastik merah berarti sampah dapur dan sampah basah yang memang dijadwalkan untuk dibuang setiap Hari Selasa. Tapi kenapa tidak diangkat? Jelas saja, karena isinya bukan sampah basah, tapi timbangan, futon (selimut dan kasur Jepang), sendok, panci-panci dkk. Hm… sebenarnya sampah itu dari kemaren di situ, tapi keberanian untuk memulung baru datang sekarang. Kami langsung aja memulungnya, memilah dan memilih,
. Malu juga, jadi celingak celinguk dulu sebelum mengambil. Syukurlah tidak ada orang yang lewat depan apartemen. Siiiip…
Di Jepang itu, membuang sampah elektronik dan barang-barang besi lainnya yang melebihi ukuran tertentu dikenakan biaya lumayan mahal, jadi kami hanya tertarik dengan barang-barang kecil ato non besi karena membayangkan buangnya tar gimana. Kebiasaan konsumtif orang-orang Jepang juga menjadikan tempat sampah diisi dengan barang-barang bagus tapi ga up to date lagi. Memulung sampah bukanlah kriminal jadi oke-oke saja. Ga perlu beli panci baru dan timbangan badan. ![]()
Semoga saja, tak ada anak seapartemen yang bisa bahasa Indonesia yang membaca blog ini,
.



Add to del.icio.us