Tokyo (Part3)
3 April 2009
Kembali ke Akihabara, membeli harddisk, kabel LAN dan batere kamera.
Berhubung hari Jumat, teman-teman cowok mau jumatan. Aku dan Mbak Icha disuruh nunggu sambil jalan-jalan. Yang mengherankan, di perjalanan menuju tempat itu, aku sempat disapa oleh seorang polisi berpakaian preman (Feri bilang sih intel sana) dalam bahasa Jepang. Kata Feri, mereka sering menyapa orang asing yang terlihat baru dan kebingungan. Ha? Padahal aku tidak bingung
. Ketika aku memanggil Feri, dia langsung bilang “O, daijoubu” yang artinya “O, gpp…”.
Siang itu, kami kesulitan mencari toilet sementara menunggu teman-teman selesai jumatan. Katanya sih di stasiun, tapi harus masuk dulu. Masa berkorban 230 yen untuk toilet, hehehe… Cara kami memperoleh toilet adalah, makan di resto Thai di samping tempat jumatan mereka dan meminjam toilet. Smart! Tapi tebak berapa sekali makan di sana? Tomyam 900 yen (sekitar 100ribu rupiah). Oops, jangan salah sangka dulu, makanannya sangat lumayan untuk harga itu.

Seset Tomyam Lezat
Di tempat ini, kami bertemu kakak kelas dalam program yang sama dan teman-teman Tokyo lainnya. Semuanya makan setelah jumatan. Aku suka pertemuan itu.
ODAIBA
Oleh Bang Benny, salah seorang teman sejawat, senior sedepartemen, senior STAN dulu, dst dst, kami diboyong menuju ODAIBA. Pengalaman pertama naik monorail, di Jepang pula. Tiket menuju Odaiba sekitar 320 yen, kurskan sendiri ya. Semua hal yang pertama, kalau tidak menakutkan, biasa aja atau menarik (itu ketentuan yang berlaku bagiku). Kalau ini ga menakutkan, tapi menarik. Dari atas monorail, kita bisa melihat jembatan yang mirip jembatan San Fransisco beserta lautnya, Patung Liberty yang mirip dengan yang di Amerika, dst.

Liberty dan Jembatan
Kereta monorail ini tidak dipegang oleh seorang masinis, semua dijalankan dengan otomatis. Jadi, kita bisa duduk di bangku (bukan di samping pak kusir) terdepan, tanpa terhalang ruang masinis. Yah, sepertinya memang ditujukan buat wisata.

Rel Tunggal
Odaiba adalah tempat terindah yang kami kunjungi selama di Tokyo. Dan asiknya lagi, teman-teman kami banyak yang tinggal di sana dengan biaya sewa rendah tapi rumahnya aduhai. Ngiri mode on lagi nih. Wow… asik juga ya, tinggal di apartemen mewah dengan biaya murah di dekat lokasi wisata, Tokyo pula. Bisa nangis-nangis kalo harus kembali ke Indonesia
.
Kami juga mengunjungi show room Toyota, dan mencoba menaiki setiap mobil yang dipamerkan karena dibebaskan untuk melakukan itu. Banyak hal yang bisa dilakukan di sana, menonton simulasi mobil balap Toyota (serasa dufan di perang bintang), mencoba games mobil-mobilan, atau mencoba mobil yang berkeliling di atap show room. Yang ada, aku akhirnya kelelahan dan terkapar di salah satu mobil di show room itu.
Malam itu terasa panjang. Pertama, kami mengunjungi rumah Bang Benny yang kuceritakan sangat menarik di Odaiba tadi, makan bareng, foto-foto bareng. Kami juga mengunjungi beberapa kamar di sekitar situ sebagai masukan untuk anak-anak Waseda yang baru tiba di Tokyo.
Saking panjangnya, kami ketinggalan kereta terakhir tengah malam itu. Di luar prediksi, terlebih malam itu adalah pergantian weekdays ke weekend, jadi jadwalnya berganti. Kami berhenti di stasiun antah berantah menunggu kereta ekspres. Di sinilah pengalaman yang paling berkesan selama di Tokyo. Ternyata banyak orang mengalami hal yang sama, maka penuh sesaklah kereta ekspres yang kami tumpangi, sama sesaknya dengan kereta KRD yang pernah kutumpangi di Jakarta ketika KRL ngadat. Gileeee, sesak bener, tanpa pegangan kita tidak akan terjatuh atau terjungkal. Bau minuman sangat kentara di antara penumpangnya. Mata-mata merah terlihat di hampir semua penumpangnya. Seorang cowok yang berdiri di belakangku bahkan bisa menyebarkan bau minuman yang sangat memuakan ke sekitarnya.
Feri kemudian bilang, “kalian dapat esensi dan kebiasaan di Jepang, dapat banget”. Ketika penumpang mulai berkurang, barulah kami sadar ada cairan muntahan di lantai yang ternyata sumber bau minuman terbesar sedari tadi. Semua orang di sekitar muntahan itu menghindar dan menjauh, bahkan orang yang mau masuk pintu pergi memilih pintu lain.
Untuk tiba di asrama Feri, tempat kami tidur, kami harus memilih taksi sebagai alternatif. Hilanglah semua kesan backpacker itu. Taksi di Jepang mahal, dan hanya bisa ditumpangi maksimal 4 orang, tidak lebih. Kalau di Jakarta masih bisa nego, hehehe. Pergerakan argo juga cepat dalam satuan yen. Meringis juga kami melihatnya. Tapi daripada tidur di emperan, mending ini deh.
4 April 2009
Hari Terakhir, Hanami di Yoyogi Park
Tujuan terakhir hari itu adalah menemui teman-teman lain yang baru tiba juga sehari sebelumnya. Aku ada titipan jaket dari mangga dua.
Acara pertemuan ini sekalian dibuat dengan Hanami anak-anak Tokyo dan Yokohama. Maka, hari itu kami dan tas-tas besar kami kembali menuju Yoyogi park. Kali ini tidak sesepi pertama kali kami berkunjung karena hari libur. Yoyogi park lebih terlihat seperti dufan pas libur anak sekolah, bahkan lebih.

Hanami
Pertemuan kali ini membuatku mengenal banyak orang Indonesia. Hari itu juga aku bertemu seorang Karo dan untuk pertama kali di Jepang aku berbahasa Karo, hurrraaaayyy.
Hanami yang artinya melihat-lihat Hana atau bunga berubah jadi Pahami, atau melihat-lihat paha. Orang Jepang, kalau suhu sudah hangat, mereka mulai memakai baju-baju pendek dan kadang duduk kurang pas, jadilah para cowok-cowok jelalatan. Tapi yah, have fun go mad lah.
Hanami harus dipersingkat dengan kepulangan kami ke Nagoya. Hari itu diakhiri dengan duduk di JR Line sampai di Nagoya.
Setibanya di Nagoya, kami menyadari betapa tempat sendiri itu sangat jauh lebih menyenangkan dibanding tempat manapun di dunia. Di mana langit dijunjung di situ langit dipijak. Ntah, kalau pribahasa itu nyambung atau tidak ![]()



Add to del.icio.us