Tokyo (Part2)
2 April 2009
TSUKIJI FISH MARKET
Feri punya rencana yang lumayan asik pagi itu, mengunjungi pasar ikan yang sering tertera di buku-buku wisata Tokyo. Feri sendiri belum pernah ke sana, jadi ini pengalaman baru buat kami semua. Pasar ini mengadakan pelelangan ikan pagi-pagi buta, tapi sayang, kereta pertama tidak sanggup mengejar pelelangan itu, jadi kami hanya menyaksikan sisa-sisa dan pasarnya.

Pasar Ikan
Kendaraan yang dipergunakan di dalam pasar ini unik. Lihat saja. Kendaraan ini lincah dan kadang mengagetkan kalau muncul mendadak dari depan atau belakang kita.

Kendaraan di Pasar Ikan
Yang unik dari pasar ini lagi adalah bau amis yang biasa kita temukan di pasar Indonesia absen di Tsukiji Fish Market. Bersih dan berhasil membuatku ngiler melihat ikan yang segar, merah, besar-besar dan beragam. Harganya sangat murah dibanding yang ada di mall di Jepang, bahkan di toko-toko emperannya.
Karena lapar dan belum sarapan, kami pun memutuskan mencoba resto sushi di dekat pasar ikan itu. Pastilah lebih fresh, wong dekat sumbernya. Tak perlu kaget, ternyata untuk makan di dalam resto perlu antri berjam-jam dalam antrian panjang. Kami pun antri, awalnya sabar, sabar, sabar. Tapi ketika kami tahu harganya mahal, kami pun ngacir meninggalkan antrian. Pasti yang di antrian belakang bersyukur setengah mati, lima orang meninggalkan antrian menghemat beberapa puluh menit. ![]()

Antrian Panjang Sushi
Demi berhemat, kami akhirnya makan di kedai udon (baca: udong) saja. 400 yen satu porsi sudah lengkap semua, lumayan enaklah. Pesanan kami berbeda-beda. Memesan di kedai udon sih mudah, tidak perlu berbasa basi dengan penjual. Tinggal masukan uang di mesin otomatis, tekan tombol makanan yang mo dibeli, serahkan bukti pembelian ke petugas, dan waaalllaaa… pesanan datang. Praktis.

Udong
GINZA
Fashion and beauty center

Pemandangan dari Jembatan Penyeberangan
Beugh, semua merk terkenal ada di sini. Sebutkan saja apa yang kalian tahu. Bvlgari, Louis Vuitton, Channel, Cartier, dst. Semua deh ada di sini. Tapi sepertinya, hanya kalangan tertentu saja yang sanggup berbelanja di sini, sisanya seperti kami, window-shopping doang. Namanya juga wisata hemat, ![]()

Gedung Legendaris di Ginza

Bvlgari
MENUJU YOYOGI PARK
Kami berjalan kaki dari stasiun Shibuya menuju Yoyogi Park. Akhirnya, wisata kami ini resmi disebut wisata dan olah raga. Olah raga yang mengasikkan, melelahkan dan penuh kenangan. Berikut tempat yang kami lewati sepanjang perjalanan menuju Yoyogi Park.

Lampu Merah Shibuya

NHK Jepang

Penunjuk Jalan
YOYOGI PARK
Senang banget tiba di Yoyogi Park. Sakuranya sudah full blossom juga dan taman ini masih sepi pengunjung karena bukan hari libur. Kami berkeliling, foto-foto (seperti biasa) dan akhirnya makan siang. Feri memasak mie goreng, Hani menggoreng telur yang semi gosong tapi enak. Siang itu menyenangkan luar biasa. Kurasa, aku tidak akan lupa saat-saat itu.

Yoyogi Park

Kursi Taman

Air Mancur Taman
SHINJUKU TEMPLE
Lokasi kuil ini dekat sekali dengan Yoyogi Park, hanya lima menit perjalanan dari pintu keluar Yoyogi Park. Ada banyak temple yang sudah kukunjungi selama di Nara beberapa waktu lampau. Ketika melihat temple itu, dipengaruhi Wisata Nara, aku tidak terlalu excited lagi
. Yang membuat perjalanan kali ini menarik adalah istirahat kami di sebuah kedai kecil yang terletak di dekat temple. Kami makan cokelat bersama sambil minum kopi dan jus. Setelah lelah berjalan kaki, foto sana sini, pegal sana sini, makan dan minum ini membawa angin segar dan kekuatan baru.

Di Pintu Masuk Temple

Temple

Minum Kopi
HARAJUKU
Pusat mode di Jepang
Yang teringat ketika mengunjungi Harajuku adalah Pasar Blok M di Jakarta Selatan. Bedanya, di sini barang-barang yang dijual aneh-aneh (menurutku). Gaya orang yang di sana pun disebut Harajuku, yang menurut pandangan orang Indonesia pada umumnya eksentrik, nyentrik atau apalah yang lainnya. Mencari stoking hitam aja susahnya minta ampun, karena yang dijual stoking yang merah, hijau, kuning dengan bentuk jaring-jaring, garis-garis bahkan bolong. Tapi mbak Icha berhasil membeli sebuah payung cantik yang mutunya dijamin lebih bagus dari payung Indonesia
. Pasar di sini pengunjungnya ruammmmaaiii dan sesak. Barang yang dijual beragam dari peniti sampai televisi
.

Pintu Masuk Harajuku

Lampu Merah Harajuku
INDONESIA EMBASSY OF TOKYO
Nah, ini tujuan utama lain ke Tokyo yaitu sekalian mau lapor kedatangan di Jepang sebagai tugas belajar dari kantor. Ternyata perlakuannya berbeda antara tugas yang diberikan dinas dengan umum. Yang lebih aneh lagi, resepsionis penerima tamu terdepan tidak bisa berbahasa Indonesia. Petugasnya orang Jepang. Kami sempat bingung harus bagaimana. Awalnya sih kita senang melihat bendera merah putih dan Garuda Pancasila, tapi lemes ketika tahu si petugas ini ga bisa bahasa Indonesia.

Bendera dan Garuda

Pin Tamu Kedubes
Seperti lima anak yang sangat kangen pulang kampung, kami memasuki ruang tunggu dengan berseri-seri. Betapa kontrasnya, ketika masuk kami menyadari pengatur suhu ruangan dibuat terlalu panas dan terkesan boros terutama penerangan di sana. Tiga lampu kristal menerangi ruang tunggu yang lumayan luas, meskipun yang ada di ruang tunggu itu hanya delapan orang. Apa aku terlalu lama terpengaruh dengan orang Jepang yang super duper hemat?
Melapor di sini tidaklah sulit, semuanya lancar dan lekas beres. Teman-teman kemudian mengajak sholat dulu dan istirahat. Wow, betapa enaknya ketika aku mulai rebahan di mushola kedutaan ini, kaki bisa lemas sesaat setelah berjalan jauh. Aku juga tahu teman-teman berasa di kampung sendiri karena sulit sekali menemukan tempat sholat yang pas di Jepang. Kadang mereka harus sholat di stasiun kereta, di sekitar toilet, numpang di tangga darurat dan dimana saja yang memungkinkan. Nggak perlu lama, aku langsung tidur meskipun tidur ayam doang.
TOKYO TOWER
Kunjungan terakhir malam itu adalah Tokyo Tower. Gagah dan rupawan bentuknya, terutama di malam hari ketika lampu-lampunya mulai dihidupkan. Perlu berkorban uang 820 yen untuk sampai ke tengah Tower, dan menambah sekitar 600 yen untuk sampai puncaknya. Rugi nggak nyoba, bertiga kami naik ke atas. Pemandangannya bagus banget, lebih bagus dari Monas,
. Malam itu di lantai satunya ada pertunjukan jazz yang menambah suasana cozy di dalam tower.

Tiket Tokyo Tower

Tokyo Tower dan Bulan

The View
Saking laparnya, kami memutuskan turun dan pulang. Malam itu makan soba dan udon lagi di stasiun Waseda.



Add to del.icio.us