Bangga Jadi Orang Indonesia
Setelah beberapa lama tinggal di Jepang, aku mulai bisa mengakui bangga menjadi orang Indonesia, terlebih ketika:
1. Kami bertamasya ke kota wisata Nara

Kuil Terbesar di Nara
Nara ditata begitu apik, padahal kota ini kecil dan bisa dikelilingi hanya dengan berjalan kaki seharian. Isi kota ini hanya kuil-kuil, tapi karena penataan yang baik dan banyaknya festival sepanjang tahun, jadilah kota hampir tanpa polusi ini dikunjungi banyak wisatawan, luar maupun dalam.

Berkelakar dengan Rusa
Rusa-rusanya tampak kelaparan karena setiap kali dia melihat barang yang seperti makanan langsung didekati. Aku bahkan harus berebut buku wisata dengannya karena dia kira buku itu makanan, makanya langsung digigit.
Ketika kami menanyakan seorang staf di bagian informasi pariwisata, beliau menjelaskan dengan detil setiap sudut Nara, apa yang menarik dan waktu tempuh. Di akhir penjelasannya dia menanyakan negara asal kami dan kami menjawab Indonesia. Dengan spontan dia mengatakan dengan senyum malu-malu “Your country is more beautiful”. Kami pun tertawa serempak. Tau aja nih bapak. Bangga booo…
2. Di Gereja dan di pertemuan zemi (seminar satu sensei)
Semua orang yang hadir akan bertanya antusias tentang “Kok bisa Indonesia punya ratusan bahasa etnik”. Mereka kemudian menanyakan lebih lanjut bahasa suku apa yang kupakai dan teman-teman lain pakai di daerah masing-masing. Sambil menghitung dengan jari, “So, you can speak many languages. Indonesia, Bataknese (Karo), English and Japanese…”. Yang terakhir itu belum bisa kok, jangan percaya mereka. “Sugoiii…” yang artinya “waaaw” atau “hebaaat”.
Senseiku cerita, kalo dia pernah ke Indonesia dan meninjau daerah miskin di sana. Kebetulan keahliannya memang di bidang International Development. Dia memasuki satu wilayah di Jawa Tengah dengan didampingi seorang bapak dari pemda dan seorang penerjemah bahasa Jepang. Dia bertanya dalam bahasa Jepang, si penerjemah menyampaikan ke bapak pemda dalam bahasa Indonesia, dan kemudian bapak pemda menerjemahkannya ke dalam bahasa Jawa kepada penduduk. Fuih… kebayang kan berapa lama komunikasi di antara mereka hari itu.
3. Di toko sayur mayur
Sambil meneliti harga dan mengkurskannya ke rupiah, aku merasa sangat beruntung menjadi seorang Indonesia yang bisa menikmati sayur mayur, buah-buahan tanpa risau harga semahal ini, bahkan aku bisa menanamnya di halaman rumah. Sayang, orang Indonesia tidak merasakan apa yang kurasakan sebelum hidup di negara lain. Sama seperti aku dulu sangat suka membuang sayur yang sedikit terlihat layu atau kuning atau buah yang keriput sedikit.
Satu pengalaman yang penting banget adalah ketika kami mengetahui harga beras yang begitu mahal. Sebenarnya seimbang dengan rasanya yang enak, tapi ketika sadar, kami berusaha tidak membuang satu butir nasi atau beras. Kata Mbak Icha temanku se-apartemen, dulu waktu di Indonesia, beras tumpah sedikit biasanya disapu aja, kalo di Jepang beras tumpah lima butir dikumpulin. Aku ga melebihkan loh. Aku pun yang dulu suka menyisakan nasi di piring, sekarang menghabiskannya sampai tanpa sisa sebutir pun (gaya suamiku banget). Hemat beras, hemat sampah (biar ga banyak) dan hemat air buat nyuci piringnya.
Orang Indonesia bahkan suka menggunakan beras jadi pengisi pot bunga agar bunganya bisa berdiri anggun. ![]()
Indonesia, negara kaya yang miskin.
Terkadang kita menurunkan martabat sendiri dengan mengorbankan lingkungan hidup, mencari keuntungan sendiri, melakukan perusakan yang mendatangkan kenikmatan jangka pendek dimana pada akhirnya kita hancur sendiri.
Secara mental kita jauh di bawah negara maju seperti Jepang. Kita kalah mental dalam hal waktu, pengabdian, kesadaran dan cinta negara sendiri. Kapan ya kita bisa melomba posisi mereka sekarang?



Add to del.icio.us