Sepotong Cerita Masa Lalu
21 Februari 2009
Sepuluh tahun, kejadian itu sudah berlalu. Tapi tiga hari lalu, cerita itu kembali terangkat. Cerita masa muda yang dulu sempat singgah.
Cerita ini kusimpan dan kubagi bersama seorang teman, Pipit. Rasanya memang sakit ketika dijalani, tapi berkesan untuk diingat. Jiwa muda dan semangat yang berapi-api.
SMP Kelas Dua
Pipit dan aku merasa saat itu adalah saat yang seru untuk mengenal cowok untuk dijadikan gebetan. Pipit yang menganggapku terlambat untuk melakukan itu, mengajakku mencari cowok yang bisa dijadikan gebetan. Saat itu tidak terpikirkan untuk berpacaran, yang ada kami hanya mengagumi cowo yang kami pilih dari jauh, dan menertawakan tingkah kami sendiri.
Cara memilihnya pun unik. Pipit sih sudah punya cowo idaman sendiri. Aku memilihnya asal-asalan saja. Waktu duduk di tempat dudukku di kelas, aku bisa langsung melihat sosok seorang kakak kelas di kelas seberang, jadi aku langsung bilang “kayaknya itu deh Pit, bisa dikecengin terus dari jendela”.
Kami mulai membuat rencana-rencana untuk mengunjungi rumah dua cowo yang sudah kami pilih. Sebenarnya bukan mengunjungi dalam arti sebenarnya, kami hanya memandang rumahnya dari jauh dan berlari menghindar jika kebetulan si cowok muncul. Benar-benar darah muda. Film Bang Roma banget. Kami sering melakukannya sambil lari pagi atau naik sepeda pagi hari. Jadi sekalian olah ragalah.
SMP Kelas Tiga
Karena kakak kelas sudah masuk SMA, aku pun mulai kendor semangat melihat sekitar lagi. Pipit kembali menyemangatiku, sampai akhirnya seorang teman yang diam-diam tahu apa yang kami lakukan, menawarkan jasa mak comblang. Pertama kali kudengar istilah mak comblang ya dari dia itu. Maklum katro dan cuek setengah mati. Hobiku pun saat itu nonton tv dan jalan ke rumah Pipit, itu aja. Dunia dipenuhi dengan nama Pipit dan itu sudah membuatku bahagia.
Mak comblang ini kemudian mulai melancarkan aksinya, baik sepengetahuanku ataupun tidak. Pokoknya dia bilang tujuan akan tercapai, meskipun aku masih bertanya, tujuan seperti apa sih?
Aku mulai curiga ketika dia begitu bersemangat, lebih semangat dari aku dalam hal menghubungi si abang itu. Tapi, saking polos dan lugunya, aku tidak ambil pusing juga. Toh dia sepertinya lebih berpengalaman dari aku.
Dia pernah mempertemukan kami berdua di sebuah ulang tahun. Aku tidak banyak berbicara saat itu, karena memang aku belum paham benar “sedang apa aku di sini?”. Dia mengantarkanku pulang dan selesai.
SMA Kelas Satu
Kami bertiga, aku, Pipit dan mak comblang masuk sma yang sama dengan cowok inceran. Sampai saat itu aku tidak punya gambaran jelas akan tujuan akhir pencomblangan ini, apa itu pacaran, dan seterusnya.
Awal tahun pertama, semua cerita menemui klimaksnya. Mak comblang kemudian menemuiku dan mengatakan ingin mengatakan sesuatu dengan ekspresi berat (ntah sandiwara apa bukan, inderaku tumpul saat itu). Pada kenyataannya dia bilang si cowok janji ingin bertemu pagi itu denganku di depan mading sekolah. Sebenarnya, aku benar-benar tidak paham dan bingung, tapi kuikuti apa yang dikatakannya.
Aku melihat cowo itu berdiri di sana . Bagian yang paling kuingat saat itu adalah hawa dingin dan angin kencang berhembus membuatku tersadar betapa aku dipermainkan oleh hidup.
Dia mulai menjelaskan kalau dia dan mak comblangku sudah memutuskan untuk berpacaran. Cut
Semua inderaku mendadak bereaksi “Apa???”. Tetap saja aku memandangnya tanpa ekspresi. Ingin aku menginterupsi penjelasannya dan bertanya “kenapa harus kamu yang di sini menjelaskan? kenapa bukan makcomblang?”. Tapi kutahan dan aku melangkah gontai kembali ke kelas. Kalah perangkah aku?
Aku ingat kalau aku menangis sore itu di rumah mak comblang. Aku ditipu dan dia hanya bilang “maaf”. Seperti seorang anak kecil yang memecahkan gelas dan minta maaf karena tidak sengaja.
Cerita itu cepat berlalu tanpa banyak tambahan. Aku belajar mengampuni dan memaafkan semuanya. Sulit, tapi aku pikir proses itu pasti ada dan bisa dijalani.
Nagoya, tiga hari kemaren
Seperti biasa, aku belum bisa menyesuaikan jam biologisku. Aku biasa tidur jam sebelas di Indonesia membuatku harus tidur jam dua di Jepang.
Mendadak, aku menemukan window chatting dari cowok yang pernah dimakcomblangi denganku itu. Wow, ada apa ini? Kami pun chat, mengalir dan akhirnya sampai pada “mengungkit masa lalu” dan meminta maaf untuk permakluman.
Ada satu hal di luar dugaanku. Aku telah berubah dan sudah tidak menganggap itu sebuah kekalahan. Aku sudah memaafkan dan sembuh sejak lama, bahkan pembicaraan kami pun tak mampu mengorek luka itu. Tuhan telah memperkenalkanku sebuah mekanisme baru yang dulu kupikir sulit. Dan Tuhan membuat semua indah pada waktunya.



Add to del.icio.us