Ramen Pertamaku

Nagoya,
Minggu, 29 Maret 2009

Karena bawaan sakit bulanan yang sulit diatasi, aku merencanakan segera pulang dari gereja, mengejar bus dan langsung tidur di rumah. Tapi tah kenapa, pendeta kali ini lebih lama khotbahnya dibanding pendeta biasa. Khotbahnya menarik, jadi aku tidak sadar jarum jam sudah menunjukkan waktu keberangkatan bis. Ditambah “jam-jam keakraban” di belakang gereja, akhirnya aku sukses ketinggalan bis.

Seorang teman Filipina menawarkan mengantarku ke Aratama Bashi dengan mobilnya. Aseeek, hemat energi hemat biaya. Belum beberapa lama di atas mobil, Jenny, orang Filipina juga, mengajakku shopping-shopping ria di Nagoya Eki tapi dengan menggunakan subway (artinya: tambahan biaya, hehehe). Awalnya kutolak karena takut merepotkan, tapi karena dia bilang “jangan kuatir”, aku mau. Hitung-hitung melupakan tekanan periodik ini.

Tiba di Nagoya Eki, aku mulai kembali merasakan perasaan yang dulu sering kurasakan di Indonesia, yaitu “aku berbeda”. Aku tidak mengerti hal-hal berbau cewe, make-up, nail polished atau apalah itu. Mereka menertawaiku ketika aku memegang kuas kuteks dan mengoleskannya ke jari. You even don’t know how to polish your nail. Aku jadi ikutan menertawakan diriku. Iya-ya, kenapa aku tomboy banget? Hal simpel pun aku kurang paham.

Kami menunggu barang pesanan kami selama hampir satu jam di Amway Nagoya. Sementara menunggu, kedua temanku ini mulai memoles pipi dengan bermacam bedak dan pemerah pipi yang disediakan Amway untuk customer di meja rias. And you guess what, I am not interested on that. Aku bertanya-tanya dalam hati “apakah aku cewek normal?” dan geli sendiri memikirkan pertanyaan itu. Senangnya jadi cowok tidak perlu melakukan hal-hal sedemikian untuk tampil sempurna. Baca selengkapnya »

Bangga Jadi Orang Indonesia

Setelah beberapa lama tinggal di Jepang, aku mulai bisa mengakui bangga menjadi orang Indonesia, terlebih ketika:

1. Kami bertamasya ke kota wisata Nara

Kuil Terbesar di Nara

Kuil Terbesar di Nara


Nara ditata begitu apik, padahal kota ini kecil dan bisa dikelilingi hanya dengan berjalan kaki seharian. Isi kota ini hanya kuil-kuil, tapi karena penataan yang baik dan banyaknya festival sepanjang tahun, jadilah kota hampir tanpa polusi ini dikunjungi banyak wisatawan, luar maupun dalam.

Berkelakar dengan Rusa

Berkelakar dengan Rusa

Kelebihan Nara yang lain adalah rusa. Dimana-mana ada rusa yang anehnya, tanduknya dipotong semua. Rasanya, rusa di bogor lebih cantik karena tanduknya ga dipotong.

awas-rusa21Rusa-rusanya tampak kelaparan karena setiap kali dia melihat barang yang seperti makanan langsung didekati. Aku bahkan harus berebut buku wisata dengannya karena dia kira buku itu makanan, makanya langsung digigit.

Ketika kami menanyakan seorang staf di bagian informasi pariwisata, beliau menjelaskan dengan detil setiap sudut Nara, apa yang menarik dan waktu tempuh. Di akhir penjelasannya dia menanyakan negara asal kami dan kami menjawab Indonesia. Dengan spontan dia mengatakan dengan senyum malu-malu “Your country is more beautiful”. Kami pun tertawa serempak. Tau aja nih bapak. Bangga booo… Baca selengkapnya »

Nagoya Archieve Building

Pagi pagi tadi kami melangkahkan kaki menuju pusat kota Nagoya untuk melihat bangunan-bangunan bersejarah dan artistik. Sayang kami hanya bisa mengunjungi satu yaitu Nagoya Archieve Building.

Satu kejutan menyenangkan pagi itu mengundang banyak orang untuk memfoto dan mengabadikan mekarnya bunga sakura. Wah, ini pengalaman pertama yang lumayan mendebarkan bagiku. Selama ini, aku hanya menyaksikannya dari internet, televisi, majalah dan media lain. Tapi kali ini, aku menyaksikannya sendiri, bunga merah jambu yang mulai mekar terlalu dini di awal Maret.

Jumlahnya belum begitu banyak, tapi sungguh bunga itu indah. Bunga yang menjadi ciri khas Jepang. Lucky me…

Nagoya Archieve

Nagoya Archieve

Lampu Langit-langit

Lampu Langit-langit

Nagoya Archieve Full

Nagoya Archieve Full

Burung dan Sakura

Burung dan Sakura

Baca selengkapnya »

Have You Ever Been Drunk?

Siang itu kami memulai pelajaran bahasa Jepang di ruangan kongkow di kampus. Kami harus memilih tempat itu, karena studying room hanya boleh dipake buat belajar, dan ga boleh dipake buat ngobrol. Padahal kan belajar bahasa itu ya harus ngobrol.

Teman Jepangku ini orangnya modern dan sudah melanglang buana ke beberapa belahan dunia, jadi ga canggung diajak bahasa Inggris bahkan menggosip. Dia sih cowo, tapi kalo nggosip bisa rame juga. Pengalamannya yang seabrek-abrek membuatku semakin mengagumi sisinya yang satu itu.

Kesan pertama mengatakan dia linguistik sejati a.k.a. belajar bahasanya gila bener, hebat. Aku mengucapkan dua patah kata bahasa Indonesia, sampe sekarang ditanya dia masih ingat. Sementara, aku diajarin bahasa Jepang berulang-ulang, pasti lupa tiga hari kemudian (waktu maksimum). Dia masih muda, bersemangat dan tidak terpikir menikah. Tidak mau memeluk suatu agama apa pun karena menurutnya agama hanya membawa petaka. Hm… pandangan yang aneh, tapi bagiku setiap orang memiliki kehendak bebas yang tidak bisa dipaksakan. Baca selengkapnya »

Sepotong Cerita Masa Lalu

21 Februari 2009
Sepuluh tahun, kejadian itu sudah berlalu. Tapi tiga hari lalu, cerita itu kembali terangkat. Cerita masa muda yang dulu sempat singgah.

Cerita ini kusimpan dan kubagi bersama seorang teman, Pipit. Rasanya memang sakit ketika dijalani, tapi berkesan untuk diingat. Jiwa muda dan semangat yang berapi-api.

SMP Kelas Dua
Pipit dan aku merasa saat itu adalah saat yang seru untuk mengenal cowok untuk dijadikan gebetan. Pipit yang menganggapku terlambat untuk melakukan itu, mengajakku mencari cowok yang bisa dijadikan gebetan. Saat itu tidak terpikirkan untuk berpacaran, yang ada kami hanya mengagumi cowo yang kami pilih dari jauh, dan menertawakan tingkah kami sendiri. Baca selengkapnya »

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!