Welcome To Japan (Yokoso Japan)
Lembar baru dalam hidup mulai kubuka. Jepang menjadi rumah ketigaku setelah Kabanjahe dan Jakarta.
Jakarta, 18 Januari 2009 (Minggu)
18.30 – 20.30
Aku tiba di bandara ditemani keluarga yang mengantarkan sampai ke terminal E. Rasanya bercampur aduk, terlebih-lebih ketika harus menyadari “this is the time”. Sebenarnya aku sudah berjanji dalam hati untuk tidak menangis saat itu, tapi suasana bandara itu membuatku meneteskan air mata juga.
Kami berangkat bertiga, aku-Huda-Hani. Rasanya seperti melepaskan sebagian kulitmu dan pergi tanpa kemungkinan memakai kulit itu lagi. Apakah gambaran itu terlalu tragis. Nggak juga, karena sakitnya sama seperti itu, hanya saja sakit dalam hati.


Jumlah pengantarku termasuk banyak, ada mertua, eda sekeluarga, Rere, Rahel dan si abang tentu saja. Yang menangis cuma aku, tapi aku melihat mata-mata mereka memerah saat aku memasuki pintu airport. Oh iya, aku melihat Rahel meneteskan air matanya, thanks ya buat kadonya. Buat Lasma juga yang sudah datang ke rumah buat bantu-bantu mengepak barang, buat Rere dengan kado, oleh-oleh wayang dan hantarannya. Jadi terharu kalau ingat ini lagi. Rasanya: “ternyata banyak orang mengasihiku”.
Denpasar, 18 Januari 2009 (Minggu)
23.00 WIT
Capek juga membawa barang yang di bagasi turun di Ngurah Rai. Yang lebih capek lagi, ternyata kami tidak diijinkan masuk ke ruang tunggu karena pesawat berangkat dua jam lagi. “Not opened yet”, begitulah petugasnya berusaha berbahasa Inggris, padahal kami yang datang jelas-jelas berbahasa Indonesia. Mungkin karena defaultnya begitu dan kebanyakan orang yang berangkat adalah orang asing.
Kami memilih duduk di emperan toko di sepanjang airport Ngurah Rai berhubung kursi yang tersedia sudah penuh. Beberapa bule memilih tidur di lantai sambil menunggu panggilan keberangkatan. Kenapa ya Ngurah Rai menyediakan ruang tunggu yang sekecil ini, padahal penumpangnya banyak.

Tengah malam, giliran kami terbang akhirnya diumumkan. Ketika masuk, kami masih ditahan oleh petugas di pintu keberangkatan. “Mada desu, mada desu (belum, belum)” kali ini bahasanya Nihon,
.
Situasi Jepang sudah mulai terasa sejak tadi semua orang berbahasa Jepang, termasuk pengumuman dalam bahasa Jepang.
Nagoya International Airport, 19 Januari 2009 (Senin)
10.00
Tiba di Nagoya, Jepang
Suhu tak sedingin yang kami bayangkan, jaket tipis yang kami kenakan lumayan menahan angin di luar airport. Ketika airport mulai terlihat, perbedaan-perbedaan sangat terasa antara Indonesia dan Jepang. Pertama keluar, ada petugas untuk disabled yang menyapa “Arigato Gozaimashita” berulang-ulang sambil mendunduk. Bagiku itu berlebihan, tapi apa salahnya untuk sebuah keramahan.


Hari itu, Senin, 19 Januari 2009, perjuangan kami berawal untuk hidup di Jepang.
Pertama, kami dijemput oleh Shimizu san yang mengantar kami ke Apato (Apartemen) kami yang cantik nan mahal dengan menaiki kereta dan taksi. Pembagian monthly allowance dilakukan di atas kereta. Terlihat seperti drugs transaction karena kami orang asing dan ngomongnya bisik-bisik. Shimizu san orangnya pendiam tapi ganteng. Beberapa teman sudah memperingatkan itu sebelumnya, hehehe.
Ada yang unik dari supir-supir taksi di Jepang. Mereka semua orang tua yang kata Shimizu san mereka adalah pensiunan-pensiunan. Wah, hebat juga ide itu. Supirnya ramah dan tidak pernah membiarkan kita mengangkat barang dan menutup pintu sendiri. Padahal kan budaya Jepang memperlihatkan kalau cewe sekalipun tidak dibantu waktu ngangkat barang-barang. Buktinya, dari tadi aku ngangkat barang susah payah, berkeringat meski dingin, Shimizu hanya memandang tanpa ekspresi.
. Makanya, kalo ke Jepang bawa tas yang rodanya bisa mutar 360 derajat, biar bisa dibawa kesana kemari, dan jangan berat-berat bawanya.
Kemudian kami menuju kantor pemilik apato (yang ternyata ketika dibaca papan namanya, apartemen ini disebut mansion) untuk menandatangani kontrak. Aku cukup terpana dengan gerakan-gerakan cekatan pegawainya. Seorang karyawati yang melayani kami sesekali melirik Shimizu, karena ganteng kali ya.
Buru-buru menyelesaikan kontrak, kami diantar oleh seorang karyawati kantor itu dengan mobil menuju subway terdekat. Sebenarnya, kami sudah lapar tapi sungkan menginterupsi Shimizu. Sampai di saat tertentu, dia menanya sendiri “Are you hungry?”. Kami bertiga kompak mengangguk. Dan Hani langsung memberi syarat tempat makan “No sake, no buta niku (buta niku=daging babi)”. Setelah bertimbang dan berdiskusi dengan pelayan restorannya, kami memutuskan makan sashimi tuna dan puding tahu,
. Actually, it is my first time eating sashimi. Glegh, rasanya aneh dan mual, tapi lama-lama terbiasa juga, meskipun tidak sampai tahap suka.
Perjalanan dilanjutkan. Shimizu san yang tak banyak bicara kemudian mengajak kami ke alien registration dan health insurance. Di Nagoya kita dijamin kesehatannya sebesar 75% kalo ga salah, sisanya dijamin oleh pihak beasiswa, dalam kasus kami Asiaseed. Kami menghabiskan waktu seharian untuk mengurus kedua hal ini. Oh iya ada yang istimewa dari pegawai Jepang yang mungkin tidak dimiliki pegawai (apalagi negeri) di Indonesia. Ketika tiba pukul 5 sore (jam pulang) mereka tidak buru-buru pulang, atau terlihat bersiap-siap, seperti yang sering kulakukan juga. Mereka menyelesaikan semua pekerjaan yang sampai jam 5 tadi belum rampung. Jadi pelayanan benar-benar tutup sekitar jam enam, karena mereka masih memanggil orang-orang yang mengantri sampai jam 5.
Kantor alien registration ini berada tepat di stasiun subway, jadi mudah didapatkan dan mudah menemukan transportasi kembali ke rumah. Sore itu, dingin mulai terasa dan Shimizu san mengantar kami belanja. Pukul 6 sore, dia buru-buru meninggalkan kami. Ternyata diam-diam dia kembali ke apato karena ada bedclothes dan tukang gas yang datang. Bedclothes itu terdiri dari selimut tebal, selimut tipis tapi bulu untuk menghangatkan badan ketika tidur ditambah bed cover untuk tempat tidur lipat kami.
19.00
Apato
Kami sibuk mengurusi dokumen-dokumen. Menyerahkan boarding pass, fotokopi pasport, dan application form ke tangan Shimizu. Untung saja aku sudah menyerahkannya jauh-jauh hari sebelum kemari, jadi ga perlu repot-repot.

Malam itu rasanya badanku pegal di semua bagian. Adaptasi pun tidak memungkinkanku tidur, bukan hanya karena suasana baru tapi karena suhu udara yang menyentuh minus sekian derajat itu.



Add to del.icio.us