Perkembangan Terbaru
20 Januari 2009 (Selasa)
08.45
Apato
Shimizu menjemput kami, padahal aku belum mandi. Gimana mau mandi sedingin ini. Saat itu aku belum menyadari ada air hangat. Jadi langsung caw ke kampus buat orientasi dsb dsb.
Butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki ke subway terdekat (Aratama Bashi), 10 menit di atas subway (coba kuingat apa saja stasiunnya, Mizuho Undojo-Sogo Rihabiri Center-Yagoto-Yagoto Nisseki-Nagoya Daigaku). Nagoya Daigaku (Universitas Nagoya) adalah tujuan akhir dengan exit door 1. Caile… hapal. Dari stasiun Nagoya Daigaku, butuh 5 menit lagi mencapai gedung GSID.
Pertemuan kami dengan para staff lumayan menjelaskan apa itu GSID, apa yang harus dilakukan, kapan ujian dilaksanakan, dst. Hari itu juga kami bertemu dengan para senpai (senior) kami setelah Shimizu san meninggalkan kami dan berjanji datang lagi dua minggu mendatang. Mereka menjelaskan lebih jauh, apa saja yang diperlukan seperti membeli tiket berlangganan subway, sepeda dan barang-barang elektronik. Kami juga diberitahu bahwa apato kami itu sangat mahal dan jauh dari kampus, jadi kami memutuskan untuk pindah dalam waktu dekat.
Siangnya, kami mencoba makan di kantin kampus yang persis terletak di seberang gedung GSID. Ada makanan halal di sana. Tapi tetap aja rasanya masih aneh di lidah. Aku memilih ayam dan nasi. Ada rasa apa gitu yang belum pas, hehehe…

Setelah makan siang, kami berdua (aku-Hani) menemui profesor kami Osada Sensei. Ruangan kerja beliau seperti perpustakaan, semua sisi kecuali sisi jendela dan pintu dipenuhi buku sampai ke atap, begitu pula dengan sekat antara westafel dan ruang kerja, sekatnya dibuat rak buku yang tinggi. Kaget juga melihat buku-bukunya. Hampir 30 persen buku dalam bahasa Indonesia, buku lengkap statistik Indonesia dari tahun ke tahun, buku budaya Indonesia, dst. Di setiap space yang tersisa ada banyak souvenir dari seluruh penjuru dunia. Dugaanku itu dari mahasiswa beliau yang sudah pernah dididiknya. Sebagian bentuknya tidak asing seperti rumah toraja, wayang, becak dst. Beliau juga sempat memamerkan sebuah peta dunia yang besar yang ditempel di belakang rak buku yang dijadikan sekat itu. Di atas peta itu ditempel foto-foto mahasiswa yang pernah dididiknya dan lulus tepat di atas peta negara mereka masing-masing. Wooow… what a wonderful map.


Setelah ngobrol panjang lebar dengan sensei, para senpai yang sudah menunggu lama kemudian menemani kami berkeliling belanja barang elektronik dasar yang diperlukan seperti: rice cooker, selimut pemanas, sayur dan makanan berikut benda-benda kecil lainnya. Kami menenteng bawaan yang sangat banyak kembali ke apato. Cukup lelah dan berhasil membuatku tertidur malam itu dengan selimut pemanas.
21 Januari 2009 (Rabu)
09.00
Bertiga kami mencoba sendiri cara ke kampus dan berhasil. Exit door di Aratama Bashi no.5 dan di Nagoya University no.1. Berjalan di Jepang tidaklah sesusah yang kubayangkan. Mungkin juga karena tempat ini banyak orang asingnya, dibuat banyak tulisan bahasa Inggrisnya. Nggak kanji semua.
Hari itu, kami meminta Student ID card, yang sudah dijanjikan sehari sebelumnya dan bisa kami pakai untuk meminta discount tiket subway. Siang hari kami menghubungi Tia, seorang mahasiswa School of Letter di Nagoya Daigaku, yang memiliki kemampuan Nihon Go (bahasa Jepang) level 1 (yah… setara 670 TOEFL-lah), untuk menemani kami membuka rekening di kantor pos dan membeli handphone di Motoyama.
Kami menghabiskan waktu seharian untuk melakukan dua hal itu. Ditambah lagi, berbelanja ke hyaku en (toko seratus yen seperti toko serba lima ribu di Indonesia). Berdasarkan pengamatanku, tidak semua barang murah di situ. Ada yang lebih mahal malah seperti tisu toilet dan beberapa barang lain, hati-hati membeli juga di sana.
Pulang dari perjalanan panjang ini, kami mengucapkan terima kasih pada Tia yang sudah berlelah-lelah menemani kami. Tia ternyata seumuranku tapi bedanya dia lancar banget bahasa Jepangnya. Katanya sih butuh 5 tahun intensif untuk itu.
Motoyama adalah stasiun subway di sebelah Nagoya Daigaku, sebenarnya jalan kaki juga bisa tapi karena hujan kami memilih naik subway.
22 Januari 2009 (Kamis)
10.15
Berangkat lagi ke kampus
Mas Huda berjanji menemui afiliasi Bea Cukai (senpai) di GSID. Mereka anak-anak S3 (Doktoral) di Ekonomi dan GSID. Cerita mereka lumayan menyentuh hati dimana kata mereka:
- Ga betah itu penyakit awal datang ke Nagoya
- Tar kalo udah setahun dua tahun, malas pulang ke Indonesia, karena udah nyaman di sini (apalagi bawa keluarga)
- Beruntung dapat Nagoya karena masuk 7 emperors’ university (ntah maksudnya apa). Tujuh emperor itu kalo ga salah: Hokaido University, Tokyo University, Nagoya University, Osaka University, Hiroshima University, Kyoto University, apa ya satu lagi? ga inget.
- International Development terbesar dan pertama di Jepang itu ada di GSID, percaya apa tidak. Masa sih? baru tahu.
Hari Kamis adalah hari seminar (Zemi) Osada Sensei (Profesorku dan Mas Hani). Seminar yang dimaksud di sini adalah presentasi mahasiswa (kebetulan mahasiswa Indonesia hari ini). Mereka adalah anak-anak M1, satu M2 dan dua D3. M1 artinya master tahun pertama, M2 master tahun kedua dan D3 doktoral tahun ketiga. Kami sendiri disebut RS (Research Student). Suasana presentasi agak menegangkan bagiku, tapi sebenarnya tidak. Suasananya santai, bisa membawa makanan dan minuman sementara teman-teman M1 mempresentasikan rencana tesis mereka.
Kami (aku dan Hani) adalah tamu undangan yang langsung diperkenalkan di seminar itu. Mereka menyambut hangat kedatangan kami. Dari info mereka juga kami tahu ada dua anak RS lainnya yang sudah lulus menjadi M1 sedang bertahun baru China di kampung halaman mereka.
Seminar selesai jam 6 sore. Hari sudah gelap dan hujan turun rintik-rintik. Sayang aku tidak menonton prakiraan cuaca, aku lupa bawa payung. Untung saja ada jas hujan plastik Mas Hani.



Add to del.icio.us