Jan
30
Hari Minggu pertama, 25 Januari 2009
Akhirnya kutemukan gereja di Nagoya. Ternyata banyak juga gereja di sini, mulai dari Ortodox, Katolik, Luteran semua ada. Tapi tentu saja aku akan memilih gereja yang terdekat dan ada pemandunya. Thanks to Yoshua dan keluarga yang sudah mengantarkan dan menunjukkan gereja ini padaku.
Gerejanya kecil dan hangat. Jemaatnya yang datang saat itu hanya 11 orang ditambah satu pendeta. Baru kali ini aku melihat gereja yang isinya dari berbagai negara dan latar belakang, tapi bersekutu dalam satu ibadah.

Jan
25
Apartemen, 24 Januari 2009
Salju di Nagoya nggak banyak, turun seperti hujan dan tidak menumpuk. Setelahnya langit langsung cerah.
Inilah salju pertamaku. Kalau dipegang saljunya langsung cair seperti es serut yang halus.
Baca selengkapnya »
Jan
24
23 Januari 2009
Sebenarnya ini bukan kali pertama berbelanja di Akanoren. Kemaren, sehabis diantar Shimizu dari Nagoya Daigaku (MeDai), kami sempat berbelanja di Hyaku En (100 Yen)nya. Tapi bedanya, kali ini kami tidak ditemani oleh seorang Jepang atau seorang pendamping dan kami belanja di supa (supermarket). Kami hanya berdua, Hani dan aku ingin membeli sayur dan perlengkapan dapur yang lainnya.
Bingung benar mencari bahan-bahan di tempat ini, apalagi tulisannya semua dalam kanji. Temanku muslim, jadi dia harus lebih teliti memilih makanan, apakah ada kandungan babi atau tidak. Sampai di tempat sayur, kami kaget, wuuuiii… harganya bo, kalo dirupiahkan mahal banget. Tapi ingat satu perintah “Ketika belanja, jangan pernah merupiahkan harga, tar stress”. Tetep aja otomatis kami merupiahkannya. Baca selengkapnya »
Jan
23
20 Januari 2009 (Selasa)
08.45
Apato
Shimizu menjemput kami, padahal aku belum mandi. Gimana mau mandi sedingin ini. Saat itu aku belum menyadari ada air hangat. Jadi langsung caw ke kampus buat orientasi dsb dsb.
Butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki ke subway terdekat (Aratama Bashi), 10 menit di atas subway (coba kuingat apa saja stasiunnya, Mizuho Undojo-Sogo Rihabiri Center-Yagoto-Yagoto Nisseki-Nagoya Daigaku). Nagoya Daigaku (Universitas Nagoya) adalah tujuan akhir dengan exit door 1. Caile… hapal. Dari stasiun Nagoya Daigaku, butuh 5 menit lagi mencapai gedung GSID.
Pertemuan kami dengan para staff lumayan menjelaskan apa itu GSID, apa yang harus dilakukan, kapan ujian dilaksanakan, dst. Hari itu juga kami bertemu dengan para senpai (senior) kami setelah Shimizu san meninggalkan kami dan berjanji datang lagi dua minggu mendatang. Mereka menjelaskan lebih jauh, apa saja yang diperlukan seperti membeli tiket berlangganan subway, sepeda dan barang-barang elektronik. Kami juga diberitahu bahwa apato kami itu sangat mahal dan jauh dari kampus, jadi kami memutuskan untuk pindah dalam waktu dekat.
Siangnya, kami mencoba makan di kantin kampus yang persis terletak di seberang gedung GSID. Ada makanan halal di sana. Tapi tetap aja rasanya masih aneh di lidah. Aku memilih ayam dan nasi. Ada rasa apa gitu yang belum pas, hehehe… Baca selengkapnya »
Jan
23
Lembar baru dalam hidup mulai kubuka. Jepang menjadi rumah ketigaku setelah Kabanjahe dan Jakarta.
Jakarta, 18 Januari 2009 (Minggu)
18.30 – 20.30
Aku tiba di bandara ditemani keluarga yang mengantarkan sampai ke terminal E. Rasanya bercampur aduk, terlebih-lebih ketika harus menyadari “this is the time”. Sebenarnya aku sudah berjanji dalam hati untuk tidak menangis saat itu, tapi suasana bandara itu membuatku meneteskan air mata juga.
Kami berangkat bertiga, aku-Huda-Hani. Rasanya seperti melepaskan sebagian kulitmu dan pergi tanpa kemungkinan memakai kulit itu lagi. Apakah gambaran itu terlalu tragis. Nggak juga, karena sakitnya sama seperti itu, hanya saja sakit dalam hati.


Jumlah pengantarku termasuk banyak, ada mertua, eda sekeluarga, Rere, Rahel dan si abang tentu saja. Yang menangis cuma aku, tapi aku melihat mata-mata mereka memerah saat aku memasuki pintu airport. Oh iya, aku melihat Rahel meneteskan air matanya, thanks ya buat kadonya. Buat Lasma juga yang sudah datang ke rumah buat bantu-bantu mengepak barang, buat Rere dengan kado, oleh-oleh wayang dan hantarannya. Jadi terharu kalau ingat ini lagi. Rasanya: “ternyata banyak orang mengasihiku”. Baca selengkapnya »