Berurusan dengan Depdiknas
Banyak yang bilang, berurusan dengan PNS itu melelahkan dan berputar-putar. Mereka dididik birokrasi bertele-tele dan tak praktis. Tujuan dari birokrasi itu sendiri kadang kala sulit dipahami. Pengalamanku kali ini bertolak belakang dengan itu, oh, atau bisa dibilang membuktikan sebaliknya juga.
Kira-kira dua minggu lalu aku dimintai tolong ibuku yang sudah pensiun untuk menanyakan “Penghargaan akhir masa bakti” di Depdiknas Pusat di Jakarta. Ibuku pernah mengirimkan berkas ke Depdiknas di Kabupaten untuk mendapatkan penghargaan tersebut. Berdasarkan surat pengantar, surat itu sudah diterima Propinsi. Setelah berselang setahun, penghargaan yang katanya dalam bentuk uang itu tak kunjung tiba di rekening beliau.
Sebenarnya jumlahnya tidak seberapa dibanding perjuangan mendapatkannya, tapi menurutku, ibu patut menerimanya. Dia sudah mengabdikan diri menjadi guru sampai dia berumur 60. Aku adalah salah satu murid didikannya dan aku bisa bilang aku adalah anak yang berhasil. Ge-er sedikitlah.
Akhirnya kutelpon bagian bersangkutan, Subdirektorat Herlambang, tah apa kepanjangannya. Seorang anak PKL mengangkat dan membantu sebisanya. Dia memintaku meninggalkan nama, NIP, nomor rekening ibu. Aku ga hapal, jadi kutelepon kembali ibu dan bagian itu 15 menit kemudian. Anak PKL tersebut memberikan teleponnya kepada seorang bapak yang sangat membantu. Dia mencatat dan memintaku meninggalkan nomor HP agar bisa ditelepon balik.
Meskipun terkesima dan hampir tak percaya, kutinggalkan juga nomorku dan menunggu, menunggu, menunggu. Setelah menunggu beberapa lama, aku ke toilet sebentar, meninggalkan handphone itu di atas meja. Ketika kembali ke tempat duduk, aku melihat nomor kantor itu sudah memiskolku dua kali.
Penuh rasa bersalah, kutelepon kembali si Bapak tapi dia terlanjur keluar kantor. Setengah jam kemudian, aku berhasil meneleponnya dan dia memberikan informasi yang sangat rinci. Berdasarkan otonomi daerah, pencairan penghargaan itu dihandle oleh Propinsi masing-masing sejak tahun 2008.
Kutelepon ibuku dan memuji kebaikan si Bapak di telepon. Ibuku pun paham dan segera menghubungi Depdiknas di propinsi.
Hebat si Bapak, aku jadi lega. Tidak benar pandangan orang banyak tentang PNS, batinku.
Cerita ini berlanjut…
Kemarin, kakakku menelepon sehubungan penghargaan itu lagi. Kakak bilang, propinsi tidak tahu menahu tentang kebijakan penghargaan itu.
Buru-buru kutelepon lagi nomor yang sama dengan sebelumnya. Sejam menghubungi, aku tak mendengar bunyi halo sama sekali, bunyinya tut-tut panjang terus. Setelah menghitung bunyi tut itu, tahulah aku kalau sebenarnya ni telepon bukannya sibuk tapi tidak diangkat.
Tah keajaiban darimana, akhirnya aku mendengar suara. Berikut pembicaraan kami yang dipersingkat.
“Iya halo”
“Bu, kalau nanya tentang Penghargaan Akhir Masa Bakti dimana ya?”
“O disini, kenapa?” nadanya terdengar sedikit tajam
“Ibu saya guru dan katanya Penghargaan Akhir Masa Baktinya sudah diserahkan ke propinsi, tapi…” belum selesai aku berbicara,
“emang gitu, terus ada masalah apa?” ternyata aku tidak salah, nadanya memang tajam.
“Saya mau tanya bu, kenapa ya di propinsi bilang ga tahu menahu, apa ya dasar hukumnya?”
“Mana saya tahu, tanya aja propinsinya” Wow, jawaban yang terlalu hm… dangkal, anak SD juga bisa jawab itu. Apa aku salah telepon, ke SD mana gitu.
“Kita lagi sibuk ni Bu, ga ada orang di sini, semuanya ngurusin diklat, telepon aja kapan kapan” dia meneruskan dengan nada keras, semakin tak jelas dengan kata-kata “kapan-kapan” itu.
“Kemaren sih, Pak B bilang bla… bla… bla…” aku mencoba menjelaskan dengan tenang
“Kalo gitu, telepon saja beliau kapan-kapan, beliau lagi ga ada ga tau kemana” kali ini ketusnya tak bisa ditutup-tutupi lagi
“Dia ngasinya nomor ini Bu, dan saya dari tadi udah nelepon tapi ga diangkat-angkat, tar kalo saya telpon lagi ga diangkat lagi gimana bu?” tanyaku mengejar
“Kan sudah saya bilang, kita sibuk. Tanya aja propinsinya, kan kita ga ada urusan lagi soal itu.”
“Oh begitu, saya berbicara dengan ibu siapa?” aku jadi ikutan kesal
“Ibu A”
“Ibu A, terima kasih banget buat ‘bantuan’ ibu” Kalau handphone bisa dibanting, mungkin handphone ini sudah jadi korban,
. Becanda.
Beee, PNS oh PNS, kenapa dirimu tidak mau memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat. Jika memang tak bisa membantu, paling tidak keramahtamahan bisa menjadi sebuah jawaban yang lebih menarik dari nada ketus dan tajam.
Yah, ini menjadi pelajaran bagi para PNS, termasuk aku. Semoga aku akan mengingat cerita ini sepanjang waktu di saat aku memberikan pelayanan prima pada masyarakat.
Terakhir di Propinsi,
Propinsi menyatakan positif tidak tahu menahu dengan penghargaan apalah namanya itu, karena tidak ada mata anggarannya. Berkas yang dikirim sudah dimuseumkan tah dimana karena merupakan berkas 2007 dan bukan wewenang mereka untuk memproses.
Mentok, ibuku menyerah. Ada nada sedih di suaranya waktu bertelepon. Ah, Bu… janganlah bersedih, maafkanlah kami PNS yang kurang bertanggungjawab ini. Ibuku menambahkan, yang mengirim berkasnya itu sebenarnya sudah masuk penjara karena kasus korupsi, manatau dia juga sudah mengkorupsinya. Iya Bu, manatau… Sulit menjelaskannya di dunia ke-PNS-an ini.



Add to del.icio.us