Perenungan

Terlalu egoiskah aku karena memutuskan sekolah setelah menikah?

Inilah perenunganku:
Aku memperoleh pertanyaan-pertanyaan berikut dari sebuah milis yang kuikuti

  1. Apakah angan-angan saya akan mengembangkan bakat saya, perangai dan kebutuhan emosional yang sudah ditanamkan Tuhan dalam diri saya?
    Ini pertanyaan yang sangat sulit dijawab.

    Cita-cita ini benar mengembangkan bakatku, tapi untuk mengembangkan perangai dan emosional, aku belum tahu pasti. Bukankah setiap tingkatan dan masa dalam hidup adalah saat untuk mengembangkan perangai dan emosi?

  2. Apakah angan-angan saya merugikan atau merampas sesuatu dari orang lain? Kalau iya, itu artinya angan-angan itu tidak sesuai kehendak Tuhan.

    Cita-cita ini akan menunda waktuku memiliki seorang keturunan. Apakah ini bisa dikategorikan merampas “sesuatu” dari orang lain? suamikukah?

  3. Bersediakah saya memperbaiki hubungan dengan orang-orang lain, bila saya masih menyimpan dendam atau sakit hati, apapun alasannya, karena emosi yang keliru tersebut akan menjauhkan saya dari Tuhan, sumber segala kreativitas. Lagi pula suatu angan-angan mustahil dapat terwujud tanpa adanya hubungan baik antar manusia.

    Aku bersedia

  4. Apakah angan-angan ini benar-benar saya dambakan dengan segenap hati? Angan-angan tidak dapat diwujudkan oleh pribadi yang bimbang, melainkan hanya dengan kebulatan tekad dan hati.

    Tuhan tahu seberapa besar aku mendambakan ini sejak lama, dan aku tidak bimbang. Yang kubimbangkan adalah orang-orang yang terimbas dengan konsekuensi penundaan keturunan tadi.

  5. Bersediakah saya dengan sabar menantikan waktu yang diatur oleh Tuhan

    Aku bersedia

  6. Berapa tingginya angan-angan saya? Semakin tinggi angan-angan itu, semakin banyak orang akan menarik manfaat daripadanya, semakin besar pula kemungkinan bahwa angan-angan itu dari Tuhan.

    Menurutku angan-angan ini tinggi, tapi semoga banyak manfaat yang bisa dinikmati oleh orang lain dari cita-cita ini.

Related posts

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!

6 Comments so far

Leave a comment Subscribe to Comments RSS Trackback this entry

  1. Irene Santi

    October 21, 2008 2:05 pm

    @Pahala Panjaitan:
    Setuju bang. :)>-

  2. Pahala Panajaitan

    October 18, 2008 9:27 am

    Ada istilah “Carilah ilmu sampai kenegeri Cina” artinya mulai dari kita dilahirkan sampai kita dipanggil oleh sakratul maut, kapan pun dan dimanapun kita tetap belajar menuntut ilmu.

  3. Irene Santi

    October 10, 2008 6:56 pm

    @Andy MSE:
    Ah, apalah artinya menuliskan perenungan? Hanya sebuah pendokumentasian. Intinya kan pada makna dan hasil perenungannya.

  4. Andy MSE

    October 10, 2008 3:57 pm

    Saya sering merenung, namun susah untuk menuliskannya…

  5. Irene Santi

    October 9, 2008 11:23 am

    @sapimoto:
    mungkin itulah keegoisanku, S2 yang kuambil ini tidak membolehkan hamil selama pendidikan. Kewajiban yang telah baku dan wajib itu pun tidak bisa kupenuhi.

    Tapi keputusan ini juga sudah kupikir matang-matang kok.

  6. sapimoto

    October 9, 2008 9:39 am

    Sekolah setelah menikah? Jika memang sudah niat, ya harus dilakukan dengan tanpa meninggalkan kewajiban yang telah baku dan wajib…. :)>-

Leave a Reply

Gravatar: Kamu bisa menampilkan foto kamu di sebelah komentar kamu dengan membaca panduan ini.

PERHATIAN! Setiap komentar ngasal yang tidak mencantumkan alamat email asli/aktif akan langsung dihapus tanpa ditampilkan terlebih dahulu.

:) :( :d :"> :(( *:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »