Review: Wall-E
Film yang sudah kutunggu sejak lama.
Film ini sarat akan makna, mulai dari pesan lingkungan hidup yang kental sampai drama percintaan yang manis. Sedikit berkata banyak berbuat.
Directed by Andrew Stanton;
Written by Mr. Stanton and Jim Reardon,
Semua Umur

Ketika bumi telah habis terekploitasi oleh manusia, bumi pun ditinggalkan begitu saja. Bumi kini penuh dengan sampah. Ada dua mahluk yang masih tinggal di situ, seekor kecoa dan Wall-E, robot pembersih sampah yang lupa dimatikan pemiliknya.
Wall-E bisa mengidentifikasi barang-barang dan fungsinya, bahkan dia bisa mempelajari emosi manusia melalui sebuah video film “Holly, Dolly!”. Film tua dengan koregrafi yang sangat menarik hati Wall-E.
Petualangan dimulai ketika sebuah roket mendarat dekat tempat tinggal Wall-E dan meninggalkan robot pendeteksi bernama Eve. Awalnya sih, Eva kejam, tanpa ampun menembak semua yang dianggapnya mencurigakan, kecuali si kecoa. Tapi akhirnya Eva luluh dengan kebaikan Wall-E. Wall-E jatuh cinta pada Eva sejak pandangan pertama. Terobsesi dengan film “Hello, Dolly!”, Wall-E berusaha memegang tangan Eva, tapi selalu gagal.
Misi Eva selesai saat Wall-E memberikan tumbuhan yang baru ditemukannya. Ketika itu terjadi, Eva langsung off dan menghubungi pesawat induknya. Sementara itu, Wall-E tetap menjaganya dari petir dan hujan. Sampai akhirnya, pesawat roket itu menjemput Eva.
Tentu Wall-E tidak rela dengan kepergian Eva. Dengan susah payah, dia berhasil ikut naik pesawat yang telah mengambil Eva. Keberadaan Wall-E di atas pesawat menguak keberadaan manusia setelah meninggalkan bumi.
Manusia bumi terlalu terorientasi dengan teknologi, gemuk karena mengandalkan kursi berteknologi tinggi untuk bergerak kemana saja. Kaki yang biasanya dipakai untuk berjalan sulit untuk digerakkan. Semua kebutuhannya disediakan di atas pesawat. Untuk berkomunikasi sekali pun mereka tinggal duduk dan berbicara via monitor persis di depan mereka.
Ribuan tahun telah membuat manusia lupa asal mereka, bumi. Ketika Eva pulang membawa bukti bahwa bumi siap ditinggali kembali, yaitu dengan adanya tumbuhan di sana, Pilot yang mengkontrol semua kegiatan pesawat harus belajar tentang bumi lagi.
Hambatan utama dalam membawa manusia kembali ke bumi adalah “kemudi pesawat”. Robot yang satu ini dirancang untuk memenuhi satu misi “manusia tidak boleh kembali ke bumi karena udara di bumi beracun”. Padahal itu misi ribuan tahun lalu, tetapi robot tidak bisa diset sedemikian rupa menyesuaikan waktu.
Wall-E dan Eva kemudian membantu si Pilot untuk membawa kembali manusia ke bumi. Sayang, dalam perjuangan itu, Wall-E merusak chip-nya sendiri. Eva berusaha keras membantunya tapi dia tidak berhasil menemukan suku cadang yang tepat.
Untunglah, ketika mereka tiba di bumi, Eva langsung menemukan suku cadang pengganti chip di tempat tinggal Wall-E. Setelah chipnya diganti, Wall-E tidak bisa mengingat Eva sama sekali. Padahal saat itu, Eva sudah begitu terkesan dengan semua perjuangan Wall-E yang dengan tulus menjaganya.
Di bagian ending, yang membuat film ini tambah asik, Eva putus asa karena tidak bisa membuat Wall-E mengingat dirinya. Wall-E menggerakkan matanya, korslet sejenak dan wallllaaaa… dia memanggil Eva dan memegang tangannya.
How romantic…
Yang patut dipuji dari film ini adalah kritikan atas perlakuan manusia yang cenderung destruktif sekarang ini. Film ini memang mirip film-film Charlie Chaplin dulu, penuh gerakan, pesan tapi tanpa kata.
Bagian yang kusuka: lemari penyimpanan Wall-E yang bisa diputar, sepertinya boleh dicontoh tu, hemat space.
Bagian yang kurang kusuka: hmm… ga ada.



Add to del.icio.us