Renaldy Rembrandt

Periang, ramah, bocor, pekerja keras (kalo lagi mau), seniman, penyanyi, ga tau malu, terlahir separuh batak dan kadang menyesal terlahir demikian. Sebut saja dia “Rere”.

Ntah kenapa garis kehidupan mempertemukan kami di STAN tahun 2002. Aku menjadi pewawancaranya ketika Rere mendaftar ulang masuk STAN. Ngakunya suka menggambar komik, jadi kusuruh dia menggambar sembari kuwawancara.

Anak ini terbilang unik di antara sesamanya dan garis kehidupan kembali membuat kami bertemu. Tahun 2003, kutawarkan suatu posisi penting di kepengurusan PMK, bidang Ibadah. Bidang ini menurutku sangat penting, meskipun bidang lain sama pentingnya, karena peranannya bisa menyebabkan semua ibadah jadi berantakan, halah ;) . Ya iyalah, namanya juga bidang ibadah. Tidak bermaksud mengecilkan bidang lain. Baca selengkapnya »

Denda Tiket KRL

Rabu, 24 September 2008
STASIUN PALMERAH, 16.45

Sore itu, aku berusaha mengejar kereta, KRL Ekonomi Ciujung, yang berangkat menuju Tanah Abang, 16.45 WIB. Sebenarnya aku tidak ingin ke Tanah Abang, tapi ini adalah trik agar mendapat tempat duduk sebelum penumpang di Tanah Abang memenuhi kereta menuju Serpong. Tujuan terakhirku adalah Stasiun Serpong. Trik ini sudah biasa dilakukan oleh penumpang Palmerah.

Ketika tiba di jalur 2, aku sudah melihat KRD Rangkas Bitung masuk dari arah Tanah Abang menuju Kebayoran. Itu artinya, aku tidak bisa menyeberang untuk membeli tiket sebelum KRL Ekonomi Ciujung datang dari arah sebaliknya. Loket tiket di Palmerah memang hanya satu dan itu di pintu masuk jalur 1. Jalur 2 memang memiliki loket kecil tapi tidak diaktifkan oleh pihak perkeretaapian.

Sekilas kulihat jam tangan, aku tahu KRL Ekonomi Ciujung akan segera datang. Dan benar saja, kedatangannya diumumkan dari pengeras suara. Ah, putus harapan untuk bisa menyeberang dan beli tiket, kecuali mempertaruhkan nyawa menyeberang saat KRD Rangkas berangkat dan KRL Ciujung baru mau masuk, karena keduanya serentak datang dan pergi. Beberapa orang benar-benar mempertaruhkan nyawanya dengan mempergunakan kesempatan yang sangat kecil itu demi sebuah tiket Rp 5000 dan tempat duduk yang nyaman. Baca selengkapnya »

Pemimpin Berawal dari Pemimpi

Sudah cukup lama ga menyentuh admin area blog ini kecuali untuk mengapprove comment. Terlalu banyak kesibukan yang menyita waktu dan pikiran. Tapi syukurlah, sekarang ada saat senggang untuk menulis sedikit.

Aku sudah menyelesaikan dua aplikasi yang artinya, habis sudah jatahku (aku menghilangkan satu kesempatan sebelumnya) untuk melamar universitas. Rasanya deg-degan, senang, lega karena sudah rampung. Kuhabiskan berminggu-minggu untuk membuat sebuah dokumen bernama “Application Form”, mulai dari menunggu rekomendasi direktur dan atasan sampai menulis esai yang rasanya tak kunjung selesai. Sekarang, tinggal menunggu interview dan pengumuman.

Daya dan upaya telah kuberikan. Jika ku menoleh ke belakang, merenungkan “sampai di mana aku”, aku bisa melihat betapa banyak harapan dan mimpi yang telah kutabur.

Seorang pemimpin diawali dengan seorang pemimpi. Percaya atau tidak, itu terbukti dari sejarah-sejarah besar dunia. Aku memiliki sebuah mimpi kecil dan itu adalah awal dari perjuanganku. Mimpi tidak berhenti di situ saja. Mimpi ternyata menuntut banyak harga, tenaga, usaha dan support dariku. Dan mimpi memantangkan kata “menyerah”.

Minggu-minggu terakhir kupersembahkan pada usaha, tenaga dan harga yang memang harus kubayar untuk mewujudkan mimpiku. Apakah aku terdengar sangat obsesif?

Reuni 180908

Kamis, 18 September 2008
Plaza Indonesia
18.00 – 21.30

Pertemuan kemarin itu sungguh menyenangkan. Aku sangat menikmatinya. Rasanya berbeda dari biasanya. Retta, Nirwana, Daniel Tarigan, Gindostar, Eka Aritonang, Freddy Halasan dan aku melewatkan malam itu bersama. Pertemuan yang penuh gelak tawa berhasil membuatku terjaga meskipun aku sangat lelah.

Banyak hal berubah di antara kami, mungkin akulah yang paling bisa merasakannya. Tingkat kedewasaan telah membawa hubungan kami menjadi semakin harmonis.

Semua cerita kita kemarin itu memberi udara segar, di tengah kemelut melamar S2-ku.

Eka, kau masih mendapat tempat khusus di hatiku sebagai teman dekat sepanjang masa. Tunggu diklatnya selesai yak, apakah ada tas yang bisa dikirim. :p

Retta, dewasa “kali” kau nak. Penguasaan bahasa batakmu sungguh di luar dugaanku. Hm… bakat alami rupanya. Tolong jaga Aurell dengan baik, jangan sampai dia mencontoh kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik darimu, ;)

Freddy, semangat buat perjuanganmu ke depan, buat pendidikan lanjutan dan juga buat pekerjaan.

Gindostar, seorang koordinator yang baik. Kapan kita nonton bareng? Thanks ya udah diantar kemaren.
Nirwana, undangan “sedang dalam proses” itu bisa membuat kemelut kale Nir… :D

Datar, selama ibu “Withri” masih di Medan, perasaan masih kayak bujangan yak?

Aku Mengagumi Lelaki


YANG

  1. Bisa menjadi dirinya sendiri.
  2. Tidak jengah memegangi tas pasangannya, tidak menentengnya saja tapi menaruhnya di bahu.
  3. Mau memayungi dirinya dan pasangannya tidak hanya saat hujan, tapi juga ketika panas.
  4. Tidak malu berjalan-jalan berdua dengan keponakannya atau anaknya yang masih kecil dan menggendongnya sesekali (kecuali: pedofil), karena kebanyakan orang merasa itu menurunkan “harga pasar”
  5. Tidak memodifikasi motornya aneh-aneh, karena bunyi motor yang knalpotnya dimodif seringkali memekakkan telinga dan menambah polusi suara saja. Modifikasi warna boleh saja. Sepertinya hampir seluruh cewe tidak suka pria yang memodifikasi knalpotnya jadi aneh-aneh.
  6. Tidak merokok tentu saja. Aku benci rokok bukan orangnya, tapi ketika rokok itu sudah menempel bahkan tertanam di tubuh seorang pria, maka “harga”-nya dia di mataku jatuh bebas.
  7. Bisa menjaga kesehatan dengan baik.
  8. Tidak terlalu memperhatikan penampilan. Boleh-boleh saja memperhatikan penampilan, tapi ketika itu mulai menjadi hal yang buat pusing, hmm… no way!
  9. Tidak bertato (kecuali: Tora Sudiro dan Restu Sinaga, he) dan tidak beranting
  10. Tidak mudah marah. Tolong digarisbawahi kata MUDAH, karena pria yang tidak pernah marah pun sangat menakutkan, karena suatu saat takutnya dia marah dan malah membunuh, hiii…
  11. Pekerja keras, meskipun orang banyak menilai pekerjaan itu rendahan.
  12. Humoris. Lucu di saat yang tepat. Pendiam tidak berarti tidak humoris. Aku banyak mengenal orang pendiam tapi sekali berbicara lucu banget.

dst.

Nah para lelaki, coba introspeksi diri kalian. Karakter-karakter di atas umumnya berlaku di hati perempuan. Posting-an ini hanya buat fun-fun saja, jangan sakit hati ya kalau ternyata tidak seperti kalian, karena ini penilaian yang subjektif.

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!