Pelajaran dari Sensei (1)
Belajar Jepang ternyata mengasyikkan juga. Pertama, nambah pengetahuan bahasa yang pasti terpakai nantinya. Kedua, mengenal budaya Jepang yang ternyata, sangat jauh berbeda dengan kita.
Kami berkenalan dengan Sensei (guru) Haruko (yang artinya: anak musim semi) sebagai native speaker di kelas kami tiga minggu lalu. Kesan pertama, kami merasa dia terlalu tegas dalam menerapkan aturan dan tepat waktu (so pasti).
Karena hitung-hitung ini latihan menuju Jepang, aku pun bertahan di kelas Bahasa Jepang ini. Awalnya kelas kita beranggotakan 30 (tiga puluh) orang, belakangan jumlahnya terdepresiasi menjadi 15 (lima belas) orang. Selidik punya selidik, ternyata karena pengajaran sensei yang sangat cepat yang membuat beberapa anggota mundur. Sehari saja tidak mengikuti pelajaran, rasanya sudah tertinggal beberapa bab.
Sensei Haruko memang mempercepat pengajarannya karena waktu kami belajar hanya sebulan untuk bahasa Jepang, sementara untuk bahasa Inggris 3 bulan. Padahal kenyataannya, ketika ke Jepang, bahasa Jepanglah yang akan lebih banyak dipergunakan dibanding bahasa Inggris yang hanya dipakai di dalam kelas. Bukankah untuk memperoleh gelar Master, SKS yang diperlukan banyak dari kegiatan yang bukan di kelas? Konsultasi dengan Profesor Jepang kan lebih baik juga dalam bahasa Jepang.
Di kelas tadi pagi, aku mulai bisa merasakan manfaat bertahan di kelas ini. Paling tidak aku tidak akan celingak-celinguk atau tersesat jika dibiarkan di Bandara Narita sendirian, karena setahuku, sulit berbahasa Inggris dengan orang Jepang. Meskipun sebenarnya, aku masih terbata-bata memikirkan pemilihan bahasa dengan kosa kataku yang terbatas.
Kelas ini juga menyadarkanku kenapa orang Indonesia bisa kalah jauh dengan orang Jepang. Tapi aku harus masuk kelas dulu ya… besok aku lanjutkan ceritanya.
Ganbate Kudasai!!!



Add to del.icio.us