Review: August Rush

Starring: Freddie Highmore, Keri Russell, Jonathan Rhys Meyers, Terrence Howard, Robin Williams
Directed by Kirsten Sheridan
Written by Nick Castle and James V. Hart
Parental Guide (Menonton dengan bimbingan orang tua)

Louise and August Rush

Louise and August Rush


August Rush, diperkenalkan dengan nama asli Evan Taylor, adalah seorang anak yang tinggal di panti sosial karena ditinggalkan orang tuanya. Dia diberkahi talenta musik yang sangat tajam. Dengan talenta itu juga dia ingin menemukan ibu dan ayahnya yang diyakininya pasti bisa bermusik seperti dirinya.

Dia terlahir dari dua orang pemusik (Louise dan Layla) yang saling mencintai tapi bertemu hanya dalam semalam. Louis adalah vokalis dan gitaris band sedangkan Layla adalah pemain selo. Bakat musik ini pula yang diwariskan mereka kepada August Rush.

Kepergian August Rush dari rumah mempertemukannya dengan Wizard (Robin Williams) seorang penampung anak jalanan yang sering mengamen di jalanan. Sayang sekali, Wizard yang terlihat sangat baik tidak mau melepaskan August Rush karena takut kehilangan mata pencahariannya. Baca selengkapnya »

Review Film-Film Favorit

Inilah sejumlah film-film favoritku dari dahulu sampai sekarang. Mungkin review singkat ini tidak akan sanggup memuat seluruh film kesukaanku, tapi paling tidak beberapa film cukup mewakililah. Jika di lain waktu, kalau ada kesempatan, aku akan membuat kelanjutannya.

NOTTING HILL
Notting HillTidak diragukan lagi, inilah film yang kutonton berulang kali sejak aku masih SMA. Pertama kali aku tertarik adalah karena menonton OST-nya yang berjudul You’ve Got Away (Shania Twain). Film ini sangat romantis dan mungkin mimpi banyak lelaki karena bisa mendapatkan seorang artis terkenal dengan hanya bermodalkan ketulusan hati. Hugh Grant selalu mempesona ketika memerankan seorang pria kalem yang apa adanya. Logat “school boy”-nya yang kental pas dengan kepribadian yang diperankannya. Julia Robert pun tak kalah bagus mengimbangi peran Hugh Grant.

Kenapa film ini begitu membekas?
Aku menonton film ini di saat aku masih SMA. Harus kuakui, gejolak remaja yang penuh emosi ikut menjadi pendukung kesukaanku pada Notting Hill. Tapi, sekarang tetap saja aku suka menontonnya. Ada bagian-bagian yang sanggup membuatku tersentuh dan bahkan menangis, meskipun aku sudah menontonnya keberapapuluh kali. ;)

FORREST GUMP
Film ini kocak, berisi, kreatif dan sarat pesan. Sepertinya tidak ada yang mengatakan film ini gak bagus.

Forrest Gump adalah anak yang ber-IQ di bawah rata-rata dan hidup bersama seorang ibu yang sangat melindunginya, meskipun kadang salah melangkah. Tidak diterima di lingkungan sekolahnya tidak membuat dia mundur. Forrest Gump kemudian jatuh cinta kepada Jenny teman sekolahnya. Cinta itu terus bertumbuh sampai mereka kuliah. Masa lalu Jenny yang kelam membuat kehidupan percintaannya menjadi berantakan di masa kuliah. Jenny pergi dan datang kepada Forrest sesuka hatinya.

Ketulusan hati, keluguan dan positive thinking kemudian membawanya kepada kesuksesan. Beberapa lambang dan kejadian bersejarah ikut dibawa ke film ini, seperti lambang Apple-Mac, smiley, dan beberapa sejarah Amerika. Kreatif banget deh…

Istilah yang sangat terkenal dari film ini adalah “Run Forrest, Ruuuunnn…”. Film ini adalah film non Hollywood yang memenangkan Academy Award-Best Picture.

Kenapa film ini begitu membekas?
Aku menonton film ini waktu kuliah. Udah basi sih… tapi aku kan belum pernah menonton sebelumnnya dan aku begitu terpesona dengan Tom Hanks. Gile, dari mana ya ide sebagus itu.


LOVE ACTUALLY

Film Hugh Grant lainnya yang berisi beberapa cerita cinta yang digabung dengan manis. Film ini bahkan dicontoh oleh salah satu film Indonesia di tahun 2008. Film ini didukung oleh beberapa artis Inggris yang terkenal dan hasilnya bagus banget.

Setting waktu: Desember (Christmas). Persiapan seputar natal membuat film ini penuh salju dan (tetap) keromantisan.

Seorang anak sekolah yang tidak berani menyatakan perasaannya, Perdana Menteri yang jatuh cinta kepada pelayan makanannya, seorang penulis yang baru saja dihianati oleh pacarnya dan menemukan cinta baru, sebuah pernikahan yang terguncang oleh kehadiran orang ketiga yang tak lain adalah sekretaris sang suami dan cerita-cerita lainnya. Ditambah dengan kehadiran Mr. Bean yang kocak.

Dua jempol untuk film ini, sangat menyentuh, padat berisi.

Apa yang membuat film ini begitu membekas?
Cerita paling mengesankan adalah adegan seorang pria akhirnya mau mengungkapkan isi hatinya dengan membuat tulisan-tulisan di atas karton putih, meskipun si cewe-nya udah menikah.

Pelajaran dari Sensei (3)

Hari pertama sensei masuk kelas.
Peraturan yang perlu diperhatikan adalah tidak boleh telat, ga boleh angkat HP dan dilarang ke toilet pada jam pelajaran. Tuing… Masa sih seketat itu. Emang, hasrat pipis bisa diatur-atur? Begitulah beberapa teman meributkan peraturan sensei. Iya juga sih, tapi aku ga ada masalah, aku bisa mengaturnya.

Hari berikutnya, hadirin alias partisipan mulai berkurang jumlahnya. Ada laporan kalau kelasnya terlalu ketat dan pelajarannya terlalu cepat. Memang, kecepatan pengajaran sensei di luar kebiasan guru-guru lain, bahkan di luar kebiasaan English native speaker. Katanya untuk membiasakan kami dengan Jepang yang sesungguhnya. Gubrak… jadi Jepang begini? Boleh nggak mengundurkan diri dari beasiswa ini? ;)

Di hari yang berbeda, beberapa orang mulai pindah ke kelas lain yang mengajarkan subjek lain karena ketinggalan, sensei mulai curhat kalau dia diberitahu panitia untuk mengganti atau memperlambat metode pengajarannya. Memang, sensei ini super duper bersemangat dan kami menyebut dia Energizer. Kadang ketika kepala sudah pusing (Atama gong-gong, dalam bahasa Jepangnya), si sensei masih bersemangat aja. Suit… suit… Baca selengkapnya »

Pelajaran dari Sensei (2)

Hari ini, Sensei Haruko membawa mie jepang yang terasa asing di lidah. Tapi karena ini adalah pengalaman berharga, aku mencoba memakannya dan eng-ing-eng… enak bo, kecuali wasabi yang rasanya terlalu menyengat.

Diiringi lagu “furaido” (in english:P Pride) dan Kokoro No Tomo (pasti taulah), satu per satu helai mie masuk dengan lancar ke mulutku. Katanya, kalo di Jepang, makan tanpa bersuara itu menunjukkan makanan yang ditawarkan ga lezat. Jadi harus makan bersuara. Slurup… slurup… nyam-nyam-nyam.

Kejadian beberapa bulan lalu pun berulang.
November 2007, kami bertiga mencoba masakan Jepang di sebuah restoran di Ratu Plaza. Ini kali pertamaku mencicipi makanan “yang benar-benar” Jepang. Enak sih enak, tapi sepulang dari sana, aku sempoyongan. Apa ada unsur sake ya di makanan itu? Ketika kukonfirmasi ke temanku, katanya sih nggak. Jamur merang atau jamur apalah namanya yang mungkin telah mengganggu keseimbanganku. Seharian rasanya sungguh ga enak. Baca selengkapnya »

Pelajaran dari Sensei (1)

Belajar Jepang ternyata mengasyikkan juga. Pertama, nambah pengetahuan bahasa yang pasti terpakai nantinya. Kedua, mengenal budaya Jepang yang ternyata, sangat jauh berbeda dengan kita.

Kami berkenalan dengan Sensei (guru) Haruko (yang artinya: anak musim semi) sebagai native speaker di kelas kami tiga minggu lalu. Kesan pertama, kami merasa dia terlalu tegas dalam menerapkan aturan dan tepat waktu (so pasti).

Karena hitung-hitung ini latihan menuju Jepang, aku pun bertahan di kelas Bahasa Jepang ini. Awalnya kelas kita beranggotakan 30 (tiga puluh) orang, belakangan jumlahnya terdepresiasi menjadi 15 (lima belas) orang. Selidik punya selidik, ternyata karena pengajaran sensei yang sangat cepat yang membuat beberapa anggota mundur. Sehari saja tidak mengikuti pelajaran, rasanya sudah tertinggal beberapa bab. Baca selengkapnya »

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!