Sepotong Cerita Pembuatan SIM

SIM (Surat Izin Mengemudi)Pembicaraan di ruang tunggu Kantor Pelayanan SIM, Daan Mogot

Bapak Pertama sedari tadi duduk bersama isterinya tanpa berkata sedikit pun, sementara Bapak Kedua menuju ke kursi di sebelahnya sambil menuntun anaknya yang masih kecil. Aku sendiri sudah duduk lama di barisan tepat di depan mereka, menunggu teman yang sedang mengurus SIM.

Bapak 2: “Ngurus SIM juga Pak?” setelah duduk dan membuka pembicaraan dengan Bapak 1 yang terlihat sangat diam itu.

Bapak 1: “Nggak, saya cuma nemenin teman ngurus SIM”

Bapak 2: “Emang pasarannya empat ratus ribu ya Pak?”

Bapak 1: “Kalo pengen cepat sih iya”

Mendadak HP ku berbunyi dan langsung kujawab. Ketika telepon kusudahi, seorang Bapak yang sudah berumur bergabung dengan mereka. Ternyata ini adalah teman Bapak 2 yang tadi disebutnya.

Bapak 3: “Hehhhh… (menarik napas panjang), bagaimana Indonesia ini bisa maju kalau seperti ini. Di depan ditulis supaya menghindari calo, tapi ternyata setelah masuk sini, saya tak habis pikir, hehhhhhh… (kembali dia menarik napas yang lebih panjang)”

Bapak 1: “Maafkan saya ya Pak nggak bisa menolong apa-apa selain menawarkan jasa calo itu” Merasa sedikit bersalah.

Bapak 3 ini memang terlihat sangat idealis dan memiliki pemahaman teguh dan pandangan sendiri tentang Indonesia yang “bersih”.

Bapak 3: “Saya tadi mengurus tanpa calo, eh, malah diketusin kalau nanya-nanya. Setelah setengah jalan akhirnya harus pake calo juga.”

Bapak 2: “Iya, kalau Bapak tidak pake mereka, tar pas ujian teori dan praktek bakal dijatuhin, tadi saya malah kena 430 ribu”

Bapak 3: “Kukira, setelah aku berumur semuanya tambah baik, tapi ternyata tidak” terdengar suara putus asanya membahana.

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat ke belakang. Wajahnya sudah penuh gurat dan terlihat sedih sekali saat itu. Tah bagaimana, tapi aku bisa memahami isi hatinya yang dalam. Sesekali aku tidak menangkap lagi pembicaraan mereka, aku tenggelam dengan pikiranku.

Di sekitar tempat duduk tunggu ini berseliweran orang-orang, ada calo berseragam, calo tidak berseragam bahkan tukang kue yang merangkap jadi calo SIM. Tadi saja, sebelum kami masuk ke gang kecil menuju Kantor Pelayanan SIM ini, kami sudah diperhadapkan dengan banyak calo. Dengan kata-kata promo “Ngurus SIM, yang pengen cepat”. Aku mulai bisa menebak, kalau sebagian besar orang disini mendapat pendampingan calo, karena nama-nama mereka dipanggil bukan dari mic pengeras suara, tapi dipanggil calo-calo itu. Itu artinya, kalau tidak via calo pasti nggak cepat, benarkah?

Aku pernah dibagi cerita tentang seorang yang mengurus SIM di tempat yang sama dengan jalur tanpa calo. Akhirnya dia tidak lulus ujian dan kembali kedua kalinya.

Pengalaman kedua pun tidak beda. Kunjungan ketiga, dia mengalah karena lelah, selain lelah di perjalanan dari Serpong ke Daan Mogot (pake motor), juga lelah mengikuti prosedurnya. Ujung-ujungnya, dia pake calo juga.

Tapi itu bukan cerita satu-satunya. Bapakku pernah memberikan contoh lain. Dengan mengusung “public figure”-nya (jangan bayangkan dia artis atau sejenisnya) dia mewanti-wanti Bapak polisi dan calo agar tidak menghalangi langkahnya mendapatkan SIM dengan prosedur biasa tanpa calo. “Kalau saya benar-benar lulus, luluskanlah, kalau gagal, gagalkan. Tapi jangan main-main dengan hasilnya.”

Setahuku Bapak sudah membeli sebuah buku ujian teori dan mempelajarinya beberapa hari belakangan. Dan dia lulus mendapatkan SIM-nya. Sayangnya kejadian begini jarang terjadi, dan Bapak pun melakukan ini di kantor daerah dan bukan di Jakarta.

Sepulangku dari Kantor Pelayanan SIM, kulayangkan kembali pandanganku ke tulisan besar “Hindarilah Calo” itu. Ada rasa malu bergejolak di hatiku. Sulit (tapi tidak mustahil) menghindari paku di tempat yang dipenuhi paku begini.

Pertanyaannya sekarang, hukum apa lagi yang bisa ditegakkan jika penegak hukumnya saja sudah begini?

Related posts

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!

27 Comments so far

Leave a comment Subscribe to Comments RSS Trackback this entry

  1. rika

    March 3, 2009 2:14 pm

    walah, Indonesia negara yang paling parah!! kenapa KPK ga URUS masalah begini? Polisi aja bisa nego harga bagi orang yang mau buat SIM baru!! Diperketat donk hukum di negara ini. Gimana Indonesia bisa maju kalau pemimpinnya semua kek preman!!!

  2. kepala bagian cetak sim C dan A

    February 2, 2008 4:53 pm

    BIKIN SIM CAPEEE DEH SM PETUGASNYA , , , GA ADA YG BENER

  3. kepala bagian cetak sim C dan A

    February 2, 2008 4:51 pm

    kalo bikin sim A dan C secara bersamaan biaya resminya Rp.750.000, kl ga ya jgn harap km bisa memiliki SIM

  4. naouki

    January 23, 2008 12:05 pm

    All..

    memang agak sulit memberantas percaloan khusunya Pembuatan & Perpanjangan SIM karena sistem sosial sudah terlanjur dengan stigma Instan & tindak tegasnya hanya semata formalitas kepada institusi tinggi / pejabat penanggung jawab. Kalo di survei juga, siapa yang mau lama2 ngurusin SIM [-(, padahal baru bisa mengendarai motor. permasalahannya dari pendapat saya edukasi terhadap masyakat yang kurang. Begini saja saat saya mengenyam pendidikan jarang sekali kita di ajarkan / ditest masalah rambu2 lalu lintas ( kalau pernah itu juga pas SD & SLTP, itu pun cuma sekali ) jadi jangan heran jika semua pengendara kendaraan di test belum tentu Hapal dengan Rambu2 yang ada :)>-:)>-, Nah sebagai negara yang masih terus belajar hayo… kita semua bareng2 mendewasakan sistem kenegaraan kita. Bagi yang sudah terlanjur Pakai calo ” anggap saja itu sebuah rezeki kemudahan ” & buat yang belum coba pakai prosedur & Buat Para Polisi “yg katanya penganyom Masyakat ” menilai peserta SIM harus Objektif *:d/*:d/ biar kita sama2 dewasa. :):)

  5. mrs bariqikram

    January 21, 2008 6:41 pm

    *:d/[-(:)>-:x
    since dun understand in bahasa indo…. still no comment

    specially this words SIM….. sorry!:)>-:)>-:)>-:)>-:)>-

  6. sst

    January 21, 2008 2:55 pm

    komentar diatas untuk menanggapi komentar sbb:

    `Calo itu juga perlu duit untuk menyekolahkan anaknya, beli beras, beli ikan, beli baju, bayar kontrak rumah, biaya natal, mengurus SIM anaknya dan SIM Isterinya kasihanilah dia yang tidak berdosa itu………..

    `Mbak Irene sendirian saja yang menolak permisif, tetapi 220.000.000 minus satu orang(Mbak Irene) yang sangat senang permisif lihat kenyataanlah….

Leave a Reply

Gravatar: Kamu bisa menampilkan foto kamu di sebelah komentar kamu dengan membaca panduan ini.

PERHATIAN! Setiap komentar ngasal yang tidak mencantumkan alamat email asli/aktif akan langsung dihapus tanpa ditampilkan terlebih dahulu.

:) :( :d :"> :(( *:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »