Luka-Luka Lama
Sebuah artikel di milis kembali membuatku terhenyak, “Ah… itu aku!”
Setelah merenung, tiba-tiba sebuah keinginan muncul untuk membuat pengakuan besar.
Tidak ada yang mengenalku sepenuhnya, bahkan orang tuaku. Tuhan saja yang tahu apa sebenarnya yang terjadi.
Perkataan negatif dan menyakitkan yang pernah kuterima selama aku hidup meresap lebih dalam dari yang kuduga di dalam hatiku. Perkataan seperti “kamu itu kok nggak secantik kakakmu?”, “sekeluarga kok kamu jelek sendiri ya?”, “kenapa ya, anak ini kayak cowo?” atau “gendut amat sih elo, diet napa?”. Kadang, kita merasa perkataan seperti itu tidak berpengaruh sama sekali, padahal sudah menyerap sampai ke dasar. Seringkali kubuat guyonan tentang hinaan yang kuterima untuk menyemangati diri, tapi ternyata tak membuat lukaku sembuh.
Aku terluka. Dan luka itu menyebar seperti penyakit menular. Bahkan aku sendiri tidak tahu, sampai semuanya terungkap ketika aku mulai berani berpacaran. Sifat posesif sudah mendarah daging di tubuhku. Aku sakit luar biasa, berperang dengan sifatku itu, dan bukan hanya aku yang tersakiti, pacarku juga. Aku tahu dia ikut tersakiti.
Ketika aku dihianati, luka itu semakin dalam dan semakin menganga. Sesuatu dari hati kecil berkata, “aku harus lepas”. Luka ini memang besar, tapi aku menyadari Tuhanku lebih besar dari semua luka.
Aku sedang berjuang menyembuhkan luka-luka lama ini bersama Tuhan. Sulit memang.
Sakit yang terbesar adalah ketika kamu menyayangi seseorang dan sangat tidak ingin menyakitinya, tapi ternyata dia tersakiti. Padahal di belakang semua itu, aku menangis melawan diriku.
Aku minta maaf pada Daniel yang sudah tersakiti menghadapiku tapi tetap bertahan. You’re such a lovely gift from God.



Add to del.icio.us