The Longest Holiday In The World
Indonesia memecahkan rekor dunia terbaru… (dikutip dari detik.com). Apalagi kalau bukan 10 hari libur alias cuti bersama.
Aku tidak suka “perampasan hak” begini. Siapa bilang PNS suka dengan cuti begitu banyak, iya kalau cuti tersebut tidak memotong hak cuti tahunan, ini malah memotong cuti tahunan yang sudah kualokasikan dari awal tahun kemarin.
YLKI pun memprotes tapi sayang tidak ditanggapi. Ntah apa tujuan petinggi kita, sampai hati memaksakan kehendaknya atas hak pegawai. Kalau kita hitung secara ekonomis, berapa uang yang telah habis demi menyesuaikan diri dengan kebijakan mendadak dan memaksa itu? Uang yang dipakai untuk reimburse atau ganti hari tiket, uang yang dikorbankan demi hari bolos yang terlanjur dibuatkan cuti sebelumnya tapi tidak memungkinkan lagi untuk itu. It’s a hard thing. Kenapa bangsa yang susah ini dibuat lebih susah lagi.
Aku seorang PNS, dan aku tidak suka dengan cemoohan yang mengatakan “hanya PNS lah yang bisa berteriak cihui dengan keputusan para menteri ini”. Aku bahkan bisa mengumpulkan ratusan nama teman sekantor yang tidak menyukai keputusan bersama itu.
Perlu kalian ketahui bersama, aku sudah membeli tiket untuk beberapa bulan ke depan (Desember tepatnya) dan sudah merencanakan beberapa program penting dalam hidupku (seperti pernikahan) agar tidak merusak hari kerja yang seharusnya kujalankan. Tapi keputusan ini yang membuatnya jadi berantakan. Memang ada cuti alasan penting, tapi tahu nggak, kalau aku mengambil cuti itu, tunjanganku dipotong 5% untuk tiap hari cuti. Jadi, harus bagaimana aku? Akankah 5 hari cuti alasan penting memotong seperempat (5X5%=25%) tunjanganku padahal aku sudah berusaha tidak cuti selama 2 tahun belakangan demi menyisihkan 6 hari cuti (itu pun setelah kepotong cuti bersama lainnya)?
NB. serunya lagi, teman-temanku yang sudah terlanjur mengambil cuti yang seharusnya dijadikan tambahan cuti ini, dianggap impas… (hah? tau gitu, aku akan menikah awal tahun kemaren).



Add to del.icio.us