Back To Work

Dua hari ini masih terasa mimpi.

Datang ke kantor terasa melayang dan aneh karena masih belum terbiasa bangun pagi dan langsung bekerja. Tapi bukan cuma itu alasannya. Liburan 2 minggu di Kabanjahe membuatku teler dan akhirnya jatuh sakit di hari-hari terakhir liburanku.

Aku ingat sebuah pooling pendapat mengatakan kalo saat liburan itu orang cenderung lebih stress. Dan terbukti dengan pengalamanku sendiri.

22 Desember 2006
Berangkat dari Jakarta dengan penerbangan pertama pagi-pagi buta.
Tanpa tidur malam yang cukup, aku dan rombongan tertidur pulas di atas pesawat. Kami sangat lelah berangkat 4 pagi dari Bintaro ke bandara. Sesampainya di Medan, kami kelaparan, haha… lupa sarapan, ga juga sih, karena pesawat ybs. tidak memperbolehkan siapapun membawa makanan ke atas pesawatnya (coba tebak pesawat apa? pasti tau deh).

23 Desember 2006
Pernikahan Deasy dan Bang William.
Kabanjahe-Medan kutempuh dengan bang Eddy Mayor menaiki bis 3/4 jurusan itu. Bagian paling tidak enak dari naik bis ini adalah perokok yang kurang toleransi beraksi. Asap mengepul sana-sini dan baunya itu lo…. weeek.
Acara pernikahannya lancar. Kami seperti reuni kecil-kecilan. Foto seadanya, yang artinya setiap ada foto langsung ikut… Pokoknya kalo tar ada foto ada kita di dalam.

Sorenya, aku diantar Jhonson dan Farida, menuju rumah sakit untuk rontgen tulang. Ooh akhirnya aku bisa juga merontgen tulangku yang bengkok itu, meskipun sudah “memaksa” mereka berdua menemaniku sampai malam. (pesan sponsor: Thanks ya woi… senang deh ditemani)

24 Desember 2006
Telat sampai di Kabanjahe, jadi ga ikut malam natal di gereja. Sedih banget….
Ini ni, akibat bis mogok di daerah Brastagi. (Asik ya nyalahin hal-hal lain…kehkeh)

25 Desember 2006
SELAMAT NATAL!

26 Desember 2006
Kami sekeluarga berangkat ke Siantar menjenguk anak abangku di sana. Dea yang pernah kuceritakan sekarang sudah besar, udah jahil dan banyak akal. Dia cantik banget bo, rambutnya dibuat mirip Dora the Explorer.

27 Desember 2006
Mengantar Daniel kembali ke Jakarta di Polonia. Medan hujan tak berhenti hari itu. Tapi kami tembus juga. Habis dari Polonia, aku meluncur ke kantor Withri, teman tercinta, padahal hujan masih lebat. Yah, namanya juga teman tercinta, =).
Bertemu dengan Withri seperti mengenang semua kisah dahulu, apalagi ditambah dengan kehadiran bang Redy Ginting, seorang dari masa lalu. Dia termasuk abang favorit sekitar 5 tahun lalu, ketika aku masih junior tingkat pertama di STAN.

28 Desember 2006
Menjaga keponakan-keponakan yang buandel banget. Semua peralatan make-up pun dirusak sampai hancur lebur. Belum juga terlatih berdandan, peralatannya hancur duluan.

29 Desember 2006
Belanja oleh-oleh….

30 Desember 2006
Pantai Cermin…
Inilah awal tragedi itu. Kami berdelapan bersama-sama ke Pantai Cermin Waterboom. Asik banget… nged.. nged… nged. Sampai lupa aku agak meriang dan pilek. Berenang tak kenal waktu ditambah sedikit air hujan ditambah lagi udara dingin yang menusuk berhasil membuatku jatuh demam 3 hari.

31 Desember 2006
Sukses juga demamnya.
Sudah 2 selimut tebal diturunkan untuk menghangatkan tubuh, tapi tetap aja menggigil. Kirain udara yang dingin tapi emang sih, cuma ga sedingin yang kurasakan.

Tutup tahun menjadi momen yang sangat berbeda. Biasanya aku meniup terompet sambil loncat-loncat kegirangan dengan para keponakan melihat kembang api. Sekarang aku mendekam di kamar dengan tubuh bergetar hebat sambil berdoa, “semoga tahun ini bisa kulalui dan tahun baru bisa kujelang” (mana tau malam itu adalah malam terakhirku) —> melankolis sekali

1 Januari 2007
Penyakit itu kubawa ke tahun berikutnya. Demamnya mulai turun dan jantungku rasanya mulai melemah detaknya. Tapi mengapa aku masih juga menggigil?

Dokter harus kami ganggu tahun baru itu. Untunglah dokterku ini baik, dia tersenyum melihatku pucat kemerahan. Sambil tertawa nyengir ditulisnya resep buatku.

2 Januari 2007
Pulang ke Jakarta dengan kelesuan tiada tara. Tangan aja masih bergetar dipaksakan mengangkat beban koper yang berat. Alhasil setibanya di Jakarta aku mengalami keram di tangan dan kaki. Bahkan kakiku tak bisa digerakkan dan ditekuk. Bekas-bekas lebam muncul di sekujur badan.

Demam itu merampas indera perasaku sampai hari ini. Pilek batuk masih ada sedikit-sedikit. Tapi untunglah sekarang aku tidak berbaring di tempat tidur dalam keadaan gemetaran.

Related posts

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!

2 Comments so far

Leave a comment Subscribe to Comments RSS Trackback this entry

  1. irene

    January 22, 2007 4:29 pm

    ye…. tsunami…
    kalo mo ikutan muat artikel di blog ini juga boleh
    kirim aja ke aku =)

  2. simon hutabarat

    January 18, 2007 12:28 pm

    wah keren abizzz blogx, pa kabar k”irene sori wktu itu ga sempet ke pantai cermin, takut ada tsunami…he..he..he

Leave a Reply

Gravatar: Kamu bisa menampilkan foto kamu di sebelah komentar kamu dengan membaca panduan ini.

PERHATIAN! Setiap komentar ngasal yang tidak mencantumkan alamat email asli/aktif akan langsung dihapus tanpa ditampilkan terlebih dahulu.

:) :( :d :"> :(( *:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »