Oh Lelaki
Apa pendapat wanita tentang lelaki?
Mungkin aku tidak tahu secara keseluruhan, tapi at least aku punya pandangan sendiri. Mari kita coba berpikir bersama, hai para wanita yang tidak bisa hidup lepas dari makhluk bernama lelaki.
Dulu waktu kecil bahkan sampai 19-an, aku memandang kalo cewe itu sama persis dengan cowo. Pergeseran pengertian mulai timbul karena aku mulai memperhatikan detil-detil tindakan cowo-cowo di sekitarku, termasuk pacar-pacarku. ![]()
Cowo itu sangat mudah untuk dipahami tapi sulit untuk dihadapi. Maksudnya, aku tahu dia mo apa, abis itu apa dan seterusnya, tapi aku sering capek sendiri menghadapi itu.
Contoh kasus: Berantem
Hari Sabtu liburan biasanya banyak waktu untuk berantem. Tah apapun masalahnya bisa mengakibatkan perselisihan. Pas berantem, cowo cenderung diam dan ga berargumentasi, kecuali ditantang. Aku paling tidak bisa didiemin. Pasti langsung kupancing agar dia mengeluarkan argumen. Tapi lihat saja apa yang terjadi, dia hanya bicara sepotong dan diam lagi. Cewe yang mana yang ga pusing menghadapi itu.
Kebanyakan cowo yang mengelilingiku adalah cowo yang pendiam (cool, calm, confidence). Aku sangat sesuai dengan mereka (most of the time), karena aku orangnya ribut sedangkan dia pendengar sejati. Cuma, kalo berantem siapa sih yang mau marahin dinding… maksudnya ngomong sendiri tanpa ada tanggapan.
Ahhh…
Perbedaan lain: Anatomi
Perbedaan ini baru kusadari setelah penelitian tadi. Cowo itu logis, kuat di kemampuan ruang, lemah di perasaan. Cewe kebalikannya. Suruh deh cowo cari sesuatu di kulkas, pasti sulitnya minta ampun. Jadi ingat buku “Why Man Can’t Listen and Women Can’t Read Maps?”. Dari judulnya saja udah tau kan, semua isi buku itu tentang perbedaan pria dan wanita. Buku ini menarik banget, baca deh. Buku ini sempat jadi pembicaraan di milis kami, dan para cowo pun mengaku itu benar.
Sekali pernah dengan teman cowok-ku, dia mencari remote control di kamarnya. Setelah capek mencari dia mencurigaiku yang telah merapikan kamarnya. Segera setelah itu, aku ditelepon dan langsung nanya “di mana kutaruh remote-nya?”. Aku bingung setengah mati karena seingatku tak memegang remote control sama sekali. Sedikit menebak, aku menyarankan dia mencari di sela-sela tempat tidurnya. Tapi dia tetep bersikeukeuh udah cari di mana-mana sampe capek.
Besoknya, ketika kami ketemu dia mengatakan kalo remote-nya dah ketemu. Malu-malu dia mengaku menemukannya di sela-sela tempat tidurnya. Untunglah aku lebih dahulu menyadari kalo cowo memang sulit untuk hal-hal detil begitu, jadi aku tersenyum saja.
(to be continued)
Update: Oh Lelaki II, Oh Lelaki III



Add to del.icio.us